Mencari Kebenaran atau Mencari Pembenaran ?

Mencari Kebenaran atau Mencari Pembenaran ?
Dua kalimat yang sama-sama mempunyai kata “Mencari” dan :Benar:..
Tapi coba perhatikan, Imbuhan yang melekat pada kata “benar” ..
Jika saya tak salah memahami, 
“Mencari Kebenaran ” itu bermakna ” Suatu usaha yang dilakukan untuk memilih/mencari di mana sumber kebenaran berada atau dengan kata lain, dia mencari dalil/ilmu/bukti dahulu sebelum meyakini sesuatu itu “benar”.

Sedangkan ” Mencari Pembenaran” itu berarti seseorang sudah meyakini sesuatu itu benar menurut logikanya, baru kemudian mencari-cari dalil/bukti yang mendukung pendapatnya”.

Orang yang Ilmiah, suka menganalisa, dan berhati-hati biasanya cenderung memillih kaidah ” Mencari Kebenaran” dahulu baru “berkeyakinan” dalam setiap hal..

Akan tetapi lain halnya dengan orang yang sombong dan “semau gue”…dia akan mencari-cari pembenaran atas segala yang telah diyakininya meski itu sesuatu yang hakikatnya “salah” dan jauh dari kebenaran..

Jadi, Anda termasuk Type yang mana ??!

 

 

Iklan

Salahkah Bila Kita Mengklaim Diri Kita sebagai Salafy?

Oleh: Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah Al Jabiri

Pertanyaan:
Apa pendapatmu tentang ucapan, “Barang siapa yang menyebut dirinya salafy berarti dia memberi tazkiyah (penyucian diri) terhadap dirinya sendiri. Cukup bagi seseorang mengucapkan ‘Aku di atas manhaj salaf.’”?

Jawab:
Ini hanyalah bentuk permainan kata-kata. Pengikut Ikhwanul Muslimin menyebut diri mereka sebagai ikhwany, pengikut Jamaah Tabligh menyebut diri mereka sebagai Tablighi, dan seterusnya.

Jadi, kenapa seorang salafy harus menyembunyikan kesalafiyahannya? Baca lebih lanjut

“Kekurangan” yang Kerap Dilupa…

Alasan manusia kurang bahagia bisa jadi bukan karena kurang sandang, kurang pangan, kurang papan, kurang tampan atau kurang cantik. Hal utama yang kerap dilupa manusia adalah karena KURANG BERSYUKUR. Mari rehat sejenak untuk membaca firmanNya dalam surat Ibrahim (14) ayat 7 atau surat Ar-Rahman (55).  Lalu siapkan jawabanmu ketika Dia bertanya padamu: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yg kamu dustakan ?”

——- ALLAHU ‘alam, Sebuah Renungan untukku, untukmu dan kita semua ———–

Larangan Memberontak pada Penguasa Meskipun Dzalim..

oleh : Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi

Dalam kitabnya yang berharga “Syarhus Sunnah”(Matan ke-25) Imam Al-Barbahari Rahimahullahu Ta’ala, berkata :

Tidak halal memerangi sulthan (penguasa), tidak pula memberontak kepadanya meskipun dia penguasa yang dzalim. Yang demikian itu berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam kepada Abi Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu :

Dengar dan ta’at, meskipun yang memerintah kalian seorang budak Habsyi”[Hadits shahih riwayat Muslim, Ahmad (3/171) dan Ibnu Majah]

Dan Sabda Beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam :

Sabarlah !, hingga kalian menemuiku di telagaku (pada hari Kiamat)”.[Hadits Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad] Baca lebih lanjut