Apakah Menjelaskan Kesalahan Da’i termasuk Fitnah ?

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan ditanya ,

Tanya : Bagaimana manhaj Ahlus sunnah dalam mengkritik seseorang kemudian menyebutkan nama mereka, apakah menjelaskan kepada umat tentang kesalahan-kesalahan beberapa da’i termasuk “fitnah” yang harus dihindari ?

Maka, Asy-Syaikh menjawab :
Kesalahan adalah sesuatu yang harus dijelaskan dan dipisahkan dari kebenaran, adapun tentang individu tertentu maka tidak ada manfaatnya mencela mereka, bahkan bisa jadi akan menimbulkan mudhorot. Kita tidak mengkritik orang-orangnya, namun kita hanya ingin menjelaskan kesalahan dan menerangkan kebenaran kepada umat agar mereka mengambil yang benar dan meninggalkan yang salah. Baca lebih lanjut

Iklan

Larangan Fanatik pada Ustadz/Da’i yang Menyimpang

Oleh : Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Soal : Apa hukumnya seseorang yang menyukai seorang yang berilmu atau da’i dan dia mengatakan : “Aku sangat menyukainya, aku tidak ingin mendengar ada seseorang yang membantahnya dan aku akan mengikuti pendapatnya walaupun dia menyelisihi dalil Al-Qur’an atau As-Sunnah. Karena syaikh tersebut lebih tahu dari kita tentang dalil..

Jawaban  :
TIDAK BOLEH seseorang melakukan hal tersebut karena ini adalah sikap FANATIK yang di-BENCI oleh ALLAH  Ta’ala dan merupakan sikap yang  TERCELA.

Kita mencintai para  ulama dan Alhamdulillah kita juga mencintai para da’i di jalan ALLAH, namun apabila SALAH SEORANG DARI MEREKA MELAKUKAN KESALAHAN DALAM SUATU PERMASALAHAN MAKA KITA MENJELASKAN KEPADA MANUSIA TENTANG KEBENARAN DALAM PERMASALAHAN TERSEBUT, DAN ITU TIDAKLAH MENGURANGI KECINTAAN TERHADAP ULAMA/DA’I YANG DIBANTAH ITU, BAHKAN TIDAK PULA KEDUDUKANNYA.

Berkata Al-Imam Malik : ” Siapapun dari kita bisa saja diterima atau ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam”. Baca lebih lanjut

Haruskah Mengganti Nama Islami ?

1. Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta’ ketika ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepadanya:

Apa hukum mengganti nama sepulang dari haji sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan jama’ah haji Indonesia? Mereka mengganti nama-nama mereka ketika di Makkah Al-Mukarramah atau di Madinah Al-Munawwarah, apakah amalan seperti ini sunnah atau bukan?

Jawab:

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti nama-nama yang buruk dengan nama-nama yang baik. Jika penggantian nama yang dilakukan oleh jama’ah haji Indonesia itu karena faktor tersebut (mencontoh seperti yang dilakukan Nabishallallahu ‘alaihi wasallam), bukan karena selesainya mereka dari ibadah haji ataupun ziarah ke masjid Nabawi untuk shalat di dalamnya, maka ini boleh.

Adapun jika mereka mengganti nama-nama mereka itu disebabkan Baca lebih lanjut

Hukum Mengkhususkan Bulan Muharram Untuk Menyantuni Anak Yatim

Pertanyaan:

Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini?

Dari: Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com)

Jawaban:
Terdapat sebuah hadis dalam kitab tanbihul ghafilin:

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.

Hadis ini menjadi motivator utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Sehingga banyak tersebar di masyarakat anjuran untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Bahkan sampai menjadikan hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim. Baca lebih lanjut

Fatwa & Himbauan Ulama Seputar Jihad di Yaman

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalawat serta salam kepada Rasululah, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Telah sampai kepada kami berita pengepungan Syiah terhadap Dammaj. Demi Allah ini adalah permusuhan kepada Ahlussunnah.

Kami menghimbau kepada segenap kaum muslimin untuk mendoakan keselamatan atas saudara-saudara kita di Dammaj.

Berikut juga kami nukilkan fatwa Asy Syaikh Rabi’ bin Umair Hadi al-Madkhali sehubungan boikot Syiah terhadap Dammaj

Kepada seluruh Ahlus Sunnah untuk membantu saudara kita di Dammaj

بسم الله الرحمن الرحيم Baca lebih lanjut

Jangan Asal nge-Bom Bung !.. Tidak Semua Kafir Halal Dibunuh !

PENTING untuk kita ketahui dan ilmui bahwa  orang kafir dalam syari’at Islam terbagi empat :

Pertama : Kafir dzimmy, yaitu orang kafir yang membayar jizyah (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka.

Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut diantaranya firman Allah Al-‘Azîz Al-Hakîm :

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan shôgirun (hina, rendah, patuh)”. (QS. At-Taubah : 29).

Dan dalam hadits Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘alaalihi wa sallam bersabda,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَّرَ أَمِيْرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِيْ خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللهِ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرًا ثُمَّ قَالَ أُغْزُوْا بِاسْمِ اللهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ قَاتِلُوْا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ أُغْزُوْا وَلاَ تَغُلُّوْا وَلاَ تَغْدِرُوْا وَلاَ تُمَثِّلُوْا وَلاَ تَقْتُلُوْا وَلِيْدًا وَإِذَا لَقِيْتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ فَإِنْ هُمْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَقَاتِلْهُمْ

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau mengangkat amir/pimpinan pasukan beliau memberikan wasiat khusus untuknya supaya bertakwa kepada Allah dan (berwasiat pada) orang-orang yang bersamanya dengan kebaikan. Kemudian beliau berkata : “Berperanglah kalian di jalan Allah dengan nama Allah, bunuhlah siapa yang kafir kepada Allah, berperanglah kalian dan jangan mencuri harta rampasan perang dan janganlah mengkhianati janji dan janganlah melakukan tamtsîl (mencincang atau merusak mayat) dan janganlah membunuh anak kecil dan apabila engkau berjumpa dengan musuhmu dari kaum musyrikin dakwailah mereka kepada tiga perkara, apa saja yang mereka jawab dari tiga perkara itu maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka ; serulah mereka kepada Islam apabila mereka menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah jizyah (upeti) dari mereka dan apabila mereka memberi maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah kemudian perangi mereka”. [1]  Baca lebih lanjut

Salafy yang Kasar ?! (Pentingnya Berakhlak Mulia dalam Dakwah)

Oleh: Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i

Soal:
Kami dapati beberapa orang salafy demikian kasar dalam ucapan, dakwah, serta bersikap keras kepada keluarga mereka. Dan apabila dia melihat orang yang bukan dari kelompoknya, ekspresi mereka sinis, di mana ini berbeda dari apa yang kami dapati dari orang-orang IM (ikhwanul muslimin). Kami sangat kurang dalam berakhlak mulia, oleh karena itu kami sungguh membutuhkan nasehat darimu, jazakallahu khairan.

Jawab:
Ini adalah permasalahan yang penting, dan penting pula saling menasehati tentang akhlak yang mulia, Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al Qalam: 4) Baca lebih lanjut