Yang Banyak Belum Tentu Lebih Dicintai..

Oleh : Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah

Perlu dipahami bahwa amalan yang pahalanya berlipat lebih banyak belum tentu lebih dicintai oleh ALLAH Ta’ala dibanding amalan yang pahalanya sedikit. Bisa jadi amalan sedikit, lebih dicintai oleh ALLAH Ta’ala daripada amalan yang banyak pahalanya.

Hal ini juga seperti hadits yang terdapat di dalam Al-Musnad, beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya darah satu ekor sembelihan yang putih (bulunya) lebih ALLAH Ta’ala cintai daripada darah dua ekor sembelihan yang hitam (bulunya).”

Begitu juga dengan satu kambing yang disembelih pada Idul Adha, lebih ALLAH Ta’ala cintai daripada bersedekah dengan harta yang jumlahnya berlipat-lipat lebih mahal (dibandingkan harga kambing), walaupun pahala shadaqah bisa jadi lebih banyak.

Membaca satu surat dengan tadabbur, penuh penghayatan, memusatkan hati dan berusaha memahami maknanya lebih ALLAH Ta’ala cintai daripada membaca sampai khatam dengan cepat meskipun pahala membaca seluruh Al-Qur’an lebih banyak.

Shalat dua raka’at yang dilakukan seseorang dengan khusyu’ dan tu’maninah menghadapkan jiwanya kepada ALLAH Ta’ala , hatinya betul-betul dicurahkan seluruhnya untuk mengingat ALLAH Ta’ala, tentu lebih dicintai ALLAH Ta’ala dibandingkan dengan 200 raka’at, namun hatinya kosong. Walaupun ALLAH Ta’ala memberikan bilangan pahala yang lebih banyak kepada 200 raka’at ini.

Dan diantara yang menguatkan hal ini adalah hadits :

1 dirham telah mengalahkan 100 ribu dirham.”

Oleh sebab itu para shahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata : Sesungguhnya berlaku sederhana di atas jalan yang haq dan sesuai dengan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam amalan bid’ah dan menyelisihi jalan yang haq.”

Maka amal ringan yang sesuai dengan ridha ALLAH Ta’ala dan Sunnah lebih dicintai oleh ALLAH Ta’ala daripada amalan yang banyak tapi tidak diridhai, atau diridhai sebagian saja.

Oleh sebab itu ALLAH Ta’ala berfirman :

“ Dialah yang menjadikan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al-Qur’an surat Al-Mulk :2)

“Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi ini sebagai hiasan baginya agar Kami uji siapa di antara mereka yang paling baik amalannya. “ (Al-Qur’an surat Al-Kahfi : 7)

Dan Firman-Nya :

“ Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Qur’an surat Huud : 7)

Dari ayat-ayat di atas kita dapati bahwa ALLAH Ta’ala mencipta langit, bumi, hidup, dan mati menghiasi bumi dengan seluruh apa yang ada di permukaannya tiada lain kecuali untuk menguji hamba-hamba-Nya, mana di antara mereka yang terbaik amalannya, dan bukan yang terbanyak.

Amal yang paling baik adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar. Yaitu amalan yang paling sesuai dengan ridha ALLAH Ta’ala dan cinta-Nya. Bukan amalan yang paling banyak tapi tidak ada ridha dan kecintaan ALLAH Ta’ala padanya.

Oleh sebab itu ALLAH Ta’ala menyukai untuk diibadahi dengan sesuatu dengan cara yang paling diridhai-Nya meskipun hanya sedikit. Bukan amalan yang banyak namun ALLAH tidak ridha atau kurang ridha padanya. Sehingga bisa jadi ada dua amalan yang sama lahiriyahnya atau lebih sedikit dari yang lain ternyata perbedaan keutamaan dari kedua amalan ini sangat jauh, lebih jauh dari jarak langit dan bumi.

Keutamaan ini tentu tergantung dengan ridha ALLAH Ta’ala terhadap amal tersebut, tergantung pada kecintaan-Nya, tegantung pada nilai makbulnya amalan tersebut di sisi-Nya dan juga tergantung pada kegembiraan-Nya.

Sebagai contoh, ALLAH Ta’ala sangat gembira terhadap seseorang yang bertaubat dengan taubat yang jujur (taubat nashuha). Dan tidak diragukan bahwa taubat tersebut lebih utama dan lebih ALLAH Ta’ala cintai dari pada amalan sunnah yang banyak meskipun lebih banyak dilakukan daripada taubat.

Maka dari itu terkabulnya suatu amalan berbeda-beda dan bertingkat-tingkat, tergantung dari ridha ALLAH Ta’ala terhadap amalan tersebut. Tingkat yang tertinggi adalah terkabul yang mendatangkan keridhaan ALLAH Ta’ala, dan kebanggan-Nya di hadapan malaikat, serta menyebabkan semakin dekatnya hamba tersebut kepada-Nya. Namun ada juga tingkat terkabul hanya dalam wujud diperolehnya pahala dan ganjaran yang besar.

(Gambaran perbedaan dua tingkatan ini, penerj.) Adalah seperti seorang yang bersedekah dengan 1000 dinar dari perbendaharaan hartanya yang sangat banyak. Harta senilai 1000 dinar baginya tidak terlalu berarti. Seakan-akan tidak mengurangi simpanannya sama sekali. Ibarat sebuah kerikil yang dia temukan di dalam rumah lalu dibuangnya begitu saja. Tujuannya barangkali karena ingin membebaskan diri dari rasa cemas, agar hartanya terjaga, agar bisa mendapat ganti/balasan dengan yang semisal, atau ada niat-niat tertentu lainnya.

Sementara itu ada seseorang yang hanya memiliki bekal sepotong roti, tidak ada selain itu. Namun karena orang ini mendahulukan saudaranya yang sangat membutuhkan, maka roti itu dia sedekahkan kepada saudaranya, dilandasi rasa cinta yang mendalam kepada ALLAH, dan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, mendapat belas kasih-Nya, mengharapkan keridhaan-Nya serta mengutamakan hajat saudaranya daripada kepentingan pribadinya.

Aduhai teramat jauh perbedaan keutamaan/fadhilah dari dua sedekah ini. Betapa bedanya kecintaan ALLAH Ta’ala, penerimaan dan keridhaan-Nya antara dua sedekah ini. Meskipun ALLAH Ta’ala menerima dua sedekah ini, namun nilai makbul yang melahirkan ridha, cinta, pertolongan dan kebanggaan di sisi malaikat-Nya berbeda dengan makbul yang hanya melahirkan pahala dan ganjaran semata.

Dalam kenyataan hidup, mungkin Anda akan mendapatkan perumpamaan yang menggambarkan perbedaan ini. Seorang raja yang diberi hadiah, kecil wujudnya namun hadiah tersebut sangat dia sukai, tentu sang raja akan mempertunjukkan hadiah tersebut baik kepada orang-orang dekat maupun pembesar kerajaan yang lain dengan penuh kebanggaan seraya memberi sanjungan kepada pemberinya.

Di kesempatan lain, sang raja mendapatkan hadiah yang sangat bernilai dalam jumlah melimpah. Barangkali baru kali ini ia mendapatkan hadiah sebanyak itu. Meskipun banyak sebenarnya hadiah tersebut tidak terlalu dia sukai, namun disebabkan kemurahan jiwanya, dia tidak ingin menyia-nyiakan orang yang memberi hadiah tersebut. Akhirnya sang raja membalas dengan hadiah yang berlipat-lipat lebih besar dari apa yang dia terima.

Oleh sebab itu Ibnu ‘Umar Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu atau selain beliau dari kalangan shahabat berkata : “Seandainya aku tahu bahwa ALLAH Ta’ala benar-benar telah menerima satu sujud yang aku lakukan, niscaya tidak ada perkara ghaib yang lebih aku sukai kecuali kematian.”

Tentunya yang diinginkan dari beliau adalah pengkabulan yang lebih khusus yaitu yang mendatangkan keridhaan dan kecintaan ALLAH, sebab pengkabulan yang berwujud pahala tentunya telah dihasilkan dan telah beliau peroleh dari kebanyakan amalan-amalan beliau.

Jadi kesimpulannnya, Al Qobul (pengkabulan) ada beberepa macam, diantaranya :

– Pengkabulan yang mendatangkan ridha, kecintaan dan pujian kepada yang beramal di hadapan para malaikat.

– Pengkabulan yang mendatangkan balasan kebaikan/pahala namun belum mencapai tingkat yang pertama.

– Pengkabulan yang hanya bersifat menyelamatkan orang yang beramal dari siksa dan tidak menghasilkan pahala. Contohnya adalah shalat yang dilakukan tanpa disertai dengan kehadiran hati. Sebab orang yang melakukan shalat tidak akan memperoleh balasan kecuali sesuai dengan sejauh mana hatinya hadir, dan memikirkan do’a dzikir yang dia ucapkan. Orang yang demikian keadaannya telah gugur kewajibannya. Namun dia tidak memperoleh pahala dari shalatnya.

Contoh lain (dari jenis yang ke-3, penerj.) adalah shalat seorang budak yang lari dari tuannya, atau shalatnya seorang yang mendatangi paranormal/dukun dan membenarkan apa yang diucapkannya. Sebagian berpendapat bahwa shalat mereka tidak diterima, meskipun demikian mereka tidak diperintahkan untuk mengulangi shalatnya. Sehingga maksud tidak diterima adalah mereka tidak mendapatkan pahala dari shalat yang dikerjakan sedangkan kewajiban mereka telah gugur.

Amal kebajikan bertingkat-tingkat keutamaannya sesuai dengan kadar keimanan, kecintaan, penganggungan, serta keikhlasan yang ada di dalam sanubari seorang hamba terhadap ALLAH Ta’ala. Perbedaan tingkatan suatu amalan juga dipengaruhi oleh kemurnian mutaba’ah (terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam). Dengan sebab perbedaan faktor-faktor inilah, dua amalan yang sama secara lahiriyah ternyata perbedaan fadhilah (keutamaan) di antara keduanya tidak bisa dihitung kecuali oleh ALLAh Ta’ala.

Kesimpulannya, tingkat kemuliaan/keutamaan amal-amal kebajikan tergantung pada dua faktor, kemurnian ikhlas dan kemurnian mutaba’ah, serta ditambah dengan faktor yang ketiga yaitu bila jenis amalan itu sendiri pada asalnya merupakan amalan yang sangat dicintai ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.

Allahu a’lamu bish-shawab

=========================

Dinukil untuk https://najiyah1400h.wordpress.com dari buku yang berjudul Hadits Lemah dan Palsu di Sekitar Kita dan Ciri-Ciri untuk Mengetahuinya (Al-Manar Al-Munif Fi Ash-Shahih Wa Adh- Dha’if.), Karya Al-Imam Ibnu Qoyyin Al-Jauziyah Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr Al-Hanbaly Ad-Dimasyqi (691 H-751 H). Penerjemah : Fauzi bin Isnain. Penerbit Pustaka Salafiyah, Sumpiuh Banyumas. Cet. Ke-1, Maret 2008. Pasal Ke-1, hal.30-35.