Konsekuensi Syahadat Muhammadur Rasulullah

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Syahadat Muhammadur Rasulullah mengandung konsekuensi-konsekuensi sebagai berikut :

1. Kita harus memuliakan dan mengutamakan beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam di atas seluruh manusia. Meng-hormati beliau beserta segenap syariat yang dibawanya di atas seluruh syariat lainnya. Hal itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan mengamalkan syariatnya dan mencintainya di atas kecintaan terhadap diri sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagung-kan dan memuliakannya serta menghor-matinya…” (al-Fath: 8-9)

2. Mendahulukan ucapannya di atas seluruh ucapan manusia tanpa terkecuali dan ber-amal dengan sunnah-sunnahnya.
Allah Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujurat: 1)

3. Mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya.. (an-Nisa’: 59)

Dan dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman:

“Apa yang ditetapkan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr: 7)

4. Menjadikannya sebagai suri tauladan dalam semua sisi kehidupan kita yaitu dengan menjadikan sunnahnya sebagai sumber hukum yang tidak dapat dipisahkan dengan al Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu; bagi orang yang mengharap (rahmat) dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

dan dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman :

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hake-katnya) tidak beriman hingga mereka men-jadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mere-ka tidak merasa keberatan dalam hati mere-ka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’: 65)

Dengan dua sifat Rasulullah –yakni sebagai Rasul dan hamba Allah– ini tertutuplah dua pintu kesesatan dan penyimpangan dari golongan yang berlebih-lebihan (al-ifrath) dan golongan yang bermudah-mudahan (at-tafrifth).

Wallahu a’lamu bishawab.

Dinukil dari : Prinsip Dasar Islam- Muhammadur Rasulullah

Iklan