Mencari Kebenaran atau Mencari Pembenaran ?

Mencari Kebenaran atau Mencari Pembenaran ?
Dua kalimat yang sama-sama mempunyai kata “Mencari” dan :Benar:..
Tapi coba perhatikan, Imbuhan yang melekat pada kata “benar” ..
Jika saya tak salah memahami, 
“Mencari Kebenaran ” itu bermakna ” Suatu usaha yang dilakukan untuk memilih/mencari di mana sumber kebenaran berada atau dengan kata lain, dia mencari dalil/ilmu/bukti dahulu sebelum meyakini sesuatu itu “benar”.

Sedangkan ” Mencari Pembenaran” itu berarti seseorang sudah meyakini sesuatu itu benar menurut logikanya, baru kemudian mencari-cari dalil/bukti yang mendukung pendapatnya”.

Orang yang Ilmiah, suka menganalisa, dan berhati-hati biasanya cenderung memillih kaidah ” Mencari Kebenaran” dahulu baru “berkeyakinan” dalam setiap hal..

Akan tetapi lain halnya dengan orang yang sombong dan “semau gue”…dia akan mencari-cari pembenaran atas segala yang telah diyakininya meski itu sesuatu yang hakikatnya “salah” dan jauh dari kebenaran..

Jadi, Anda termasuk Type yang mana ??!

 

 

Apakah Menjelaskan Kesalahan Da’i termasuk Fitnah ?

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan ditanya ,

Tanya : Bagaimana manhaj Ahlus sunnah dalam mengkritik seseorang kemudian menyebutkan nama mereka, apakah menjelaskan kepada umat tentang kesalahan-kesalahan beberapa da’i termasuk “fitnah” yang harus dihindari ?

Maka, Asy-Syaikh menjawab :
Kesalahan adalah sesuatu yang harus dijelaskan dan dipisahkan dari kebenaran, adapun tentang individu tertentu maka tidak ada manfaatnya mencela mereka, bahkan bisa jadi akan menimbulkan mudhorot. Kita tidak mengkritik orang-orangnya, namun kita hanya ingin menjelaskan kesalahan dan menerangkan kebenaran kepada umat agar mereka mengambil yang benar dan meninggalkan yang salah. Baca lebih lanjut

Larangan Fanatik pada Ustadz/Da’i yang Menyimpang

Oleh : Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Soal : Apa hukumnya seseorang yang menyukai seorang yang berilmu atau da’i dan dia mengatakan : “Aku sangat menyukainya, aku tidak ingin mendengar ada seseorang yang membantahnya dan aku akan mengikuti pendapatnya walaupun dia menyelisihi dalil Al-Qur’an atau As-Sunnah. Karena syaikh tersebut lebih tahu dari kita tentang dalil..

Jawaban  :
TIDAK BOLEH seseorang melakukan hal tersebut karena ini adalah sikap FANATIK yang di-BENCI oleh ALLAH  Ta’ala dan merupakan sikap yang  TERCELA.

Kita mencintai para  ulama dan Alhamdulillah kita juga mencintai para da’i di jalan ALLAH, namun apabila SALAH SEORANG DARI MEREKA MELAKUKAN KESALAHAN DALAM SUATU PERMASALAHAN MAKA KITA MENJELASKAN KEPADA MANUSIA TENTANG KEBENARAN DALAM PERMASALAHAN TERSEBUT, DAN ITU TIDAKLAH MENGURANGI KECINTAAN TERHADAP ULAMA/DA’I YANG DIBANTAH ITU, BAHKAN TIDAK PULA KEDUDUKANNYA.

Berkata Al-Imam Malik : ” Siapapun dari kita bisa saja diterima atau ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam”. Baca lebih lanjut

Haruskah Mengganti Nama Islami ?

1. Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta’ ketika ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepadanya:

Apa hukum mengganti nama sepulang dari haji sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan jama’ah haji Indonesia? Mereka mengganti nama-nama mereka ketika di Makkah Al-Mukarramah atau di Madinah Al-Munawwarah, apakah amalan seperti ini sunnah atau bukan?

Jawab:

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti nama-nama yang buruk dengan nama-nama yang baik. Jika penggantian nama yang dilakukan oleh jama’ah haji Indonesia itu karena faktor tersebut (mencontoh seperti yang dilakukan Nabishallallahu ‘alaihi wasallam), bukan karena selesainya mereka dari ibadah haji ataupun ziarah ke masjid Nabawi untuk shalat di dalamnya, maka ini boleh.

Adapun jika mereka mengganti nama-nama mereka itu disebabkan Baca lebih lanjut

Hukum Mengkhususkan Bulan Muharram Untuk Menyantuni Anak Yatim

Pertanyaan:

Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini?

Dari: Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com)

Jawaban:
Terdapat sebuah hadis dalam kitab tanbihul ghafilin:

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.

Hadis ini menjadi motivator utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Sehingga banyak tersebar di masyarakat anjuran untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Bahkan sampai menjadikan hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim. Baca lebih lanjut

Fatwa & Himbauan Ulama Seputar Jihad di Yaman

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalawat serta salam kepada Rasululah, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Telah sampai kepada kami berita pengepungan Syiah terhadap Dammaj. Demi Allah ini adalah permusuhan kepada Ahlussunnah.

Kami menghimbau kepada segenap kaum muslimin untuk mendoakan keselamatan atas saudara-saudara kita di Dammaj.

Berikut juga kami nukilkan fatwa Asy Syaikh Rabi’ bin Umair Hadi al-Madkhali sehubungan boikot Syiah terhadap Dammaj

Kepada seluruh Ahlus Sunnah untuk membantu saudara kita di Dammaj

بسم الله الرحمن الرحيم Baca lebih lanjut

Pokok-Pokok Kesesatan Syi’ah

Oleh : Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql

Asal-usul Syiah

Syiah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, lalu Abdullah bin Saba’ mengintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca: imamah) sesudah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Namun, menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib.

Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian mereka melarikan diri ke Madain. Aliran Syi’ah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke-2 hijriyah dan abad-abad berikutnya.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syiah pada Periode Pertama:

1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi  shallallahu ‘alayhi wasallam. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib rhadiyallahu ‘anhu. Baca lebih lanjut