<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://najiyah1400h.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://najiyah1400h.wordpress.com</link>
	<description>Upaya Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri dan Orang Lain..</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 07:18:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='najiyah1400h.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/271547a6564ab2aeabc42a66a833dd41?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://najiyah1400h.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://najiyah1400h.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Haruskah Mengganti Nama Islami ?</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/12/20/mengganti-nama-islami-wajib-kah/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/12/20/mengganti-nama-islami-wajib-kah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 14:57:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah-Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=776</guid>
		<description><![CDATA[1. Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta’ ketika ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepadanya: Apa hukum mengganti nama sepulang dari haji sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan jama’ah haji Indonesia? Mereka mengganti nama-nama mereka ketika di Makkah Al-Mukarramah atau di Madinah Al-Munawwarah, apakah amalan seperti ini sunnah atau bukan? Jawab: Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti nama-nama &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=776&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta’ ketika ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepadanya:</strong></p>
<p>Apa hukum mengganti nama sepulang dari haji sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan jama’ah haji Indonesia? Mereka mengganti nama-nama mereka ketika di Makkah Al-Mukarramah atau di Madinah Al-Munawwarah, apakah amalan seperti ini sunnah atau bukan?</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><strong>Dahulu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mengganti nama-nama yang buruk dengan nama-nama yang baik</strong>. Jika penggantian nama yang dilakukan oleh jama’ah haji Indonesia itu karena faktor tersebut (mencontoh seperti yang dilakukan Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>), bukan karena selesainya mereka dari ibadah haji ataupun ziarah ke masjid Nabawi untuk shalat di dalamnya, maka ini boleh.</p>
<p><strong>Adapun jika mereka mengganti nama-nama mereka itu disebabkan<span id="more-776"></span> karena mereka sedang di Makkah atau Madinah, atau karena selesai dari pelaksanaan ibadah haji misalnya, maka ini termasuk bid’ah, bukan sunnah.</strong></p>
<p><em>Wabillahit taufiq</em>.</p>
<p>وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.sahab.net/forums/showthread.php?p=800007">http://www.sahab.net/forums/showthread.php?p=800007</a></p>
<p><strong>2. Syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah</strong> pernah ditanya : Ketika seseorang masuk Islam, haruskah dia merubah namanya –sebagai contoh, dari  George atau Joseph?</p>
<p><strong>Jawab beliau :</strong></p>
<p>Dia tidak perlu merubah namanya kecuali apabila namanya mengandung makna peribadahan kepada selain Allah. Akan tetapi disyariatkan untuk membaguskan nama. Jadi baik baginya untuk merubah namanya yang ‘ajm (asing) menjadi nama yang Islami, namun ini bukanlah suatu yang wajib.</p>
<p>Akan tetapi jika namanya Abdul Masih (Hamba Kristus), atau sesuatu yang semisalnya, maka wajib baginya untuk mengganti nama tersebut dengan kesepakatan para ulama. Namun apabila nama-nama tersebut tidak mengandung makna peribadahan kepada selain Allah seperti George atau Paul dll, maka tidak wajib untuk merubahnya karena nama-nama tersebut juga dipakai oleh selain orang-orang Nashara.</p>
<p>Wabillahi taufiq.</p>
<p>(Diterjemahkan dari fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Fatawa Islamiyah, jilid 8 halaman 212)<br />
Sumber : <a href="http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/03/03/hukum-mengganti-nama-bagi-orang-yang-masuk-islam/">http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/03/03/hukum-mengganti-nama-bagi-orang-yang-masuk-islam/</a></p>
<p><a href="http://www.sahab.net/forums/showthread.php?p=800007"><br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/776/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=776&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/12/20/mengganti-nama-islami-wajib-kah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengkhususkan Bulan Muharram Untuk Menyantuni Anak Yatim</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/12/06/hukum-mengkhususkan-hari-as-syurabulan-muharram-untuk-menyantuni-anak-yatim/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/12/06/hukum-mengkhususkan-hari-as-syurabulan-muharram-untuk-menyantuni-anak-yatim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 15:38:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah-Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=769</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini? Dari: Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com) Jawaban: Terdapat sebuah hadis dalam kitab tanbihul ghafilin: من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة Siapa yang mengusapkan tangannya pada &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=769&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h6>Pertanyaan:</h6>
<p>Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini?</p>
<p>Dari: Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com)</p>
<p>Jawaban:<br />
Terdapat sebuah hadis dalam kitab tanbihul ghafilin:</p>
<p>من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة</p>
<p>Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.</p>
<p>Hadis ini menjadi motivator utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Sehingga banyak tersebar di masyarakat anjuran untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Bahkan sampai menjadikan hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim.<span id="more-769"></span><br />
Namun sayangnya, ternyata hadis di atas statusnya adalah hadits PALSU. Dalam jalur sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang bernama: Habib bin Abi Habib, Abu Muhammad. Para ulama hadis menyatakan bahwa perawi ini MATRUK (ditinggalkan). Untuk lebih jelasnya, berikut komentar para ulama kibar dalam hadis tentang Habib bin Abi Habib:<br />
a. Imam Ahmad: Habib bin Abi Habib pernah berdusta<br />
b. Ibnu Ady mengatakan: Habib pernah memalsukan hadis (al-Maudhu’at, 2/203)<br />
c. Adz Dzahabi mengatakan: “Tertuduh berdusta.” (Talkhis Kitab al-Maudhu’at, 207).<br />
Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa hadis ini adalah hadits PALSU. Abu Hatim mengatakan: “Ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya.” (al-Maudhu’at, 2/203)</p>
<p>Keterangan di atas sama sekali BUKAN karena mengingkari keutamaan menyantuni anak yatim. Bukan karena melarang anda untuk bersikap baik kepada anak yatim. Sama sekali bukan.<br />
Tidak kita pungkiri bahwa menyantuni anak yatim adalah satu amal yang mulia. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan dalam sebuah hadis:</p>
<p>أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ , وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى , وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلاً</p>
<p>“Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua jari ini ketika di surga.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5304)<br />
Dalam hadis shahih ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebutkan keutamaan menyantuni anak yatim secara umum, tanpa beliau sebutkan waktu khusus. Artinya, keutamaan menyantuni anak yatim berlaku KAPAN SAJA. Sementara kita TIDAK BOLEH meyakini adanya WAKTU KHUSUS untuk ibadah tertentu TANPA dalil yang SHAHIH.<br />
Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah ‘batasan tata cara ibadah’ yang penting untuk kita ketahui:</p>
<p>كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام ؛ فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوهما بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعًا من غير أن يدلّ الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة</p>
<p>“Semua bentuk ibadah yang sifatnya mutlak dan terdapat dalam syariat berdasarkan dalil umum, maka membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak ini dengan waktu, tempat, atau batasan tertentu lainnya, dimana akan muncul sangkaan bahwa batasan ini merupakan bagian ajaran syariat, sementara dalil umum tidak menunjukkan hal ini maka batasan ini termasuk bentuk BID&#8217;AH.” (Qowa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 52)<br />
Karena pahala dan keutamaan amal adalah rahasia Allah, yang hanya mungkin kita ketahui berdasarkan DALIL yang SHAHIH.<br />
Allahu a’lam…</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)<br />
Artikel www.KonsultasiSyariah.comx</p>
<div></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/769/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=769&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/12/06/hukum-mengkhususkan-hari-as-syurabulan-muharram-untuk-menyantuni-anak-yatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa &amp; Himbauan Ulama Seputar Jihad di Yaman</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/12/02/fatwa-himbauan-ulama-seputar-jihad-di-yaman/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/12/02/fatwa-himbauan-ulama-seputar-jihad-di-yaman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 14:02:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=763</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalawat serta salam kepada Rasululah, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Telah sampai kepada kami berita pengepungan Syiah terhadap Dammaj. Demi Allah ini adalah permusuhan kepada Ahlussunnah. Kami menghimbau kepada segenap kaum muslimin untuk mendoakan keselamatan atas saudara-saudara kita di Dammaj. Berikut juga &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=763&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillahirrahmanirrahim</p>
<p>Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalawat serta salam kepada Rasululah, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.</p>
<p>Telah sampai kepada kami berita pengepungan Syiah terhadap Dammaj. Demi Allah ini adalah permusuhan kepada Ahlussunnah.</p>
<p><strong>Kami menghimbau kepada segenap kaum muslimin untuk mendoakan keselamatan atas saudara-saudara kita di Dammaj.</strong></p>
<p>Berikut juga kami nukilkan fatwa Asy Syaikh Rabi’ bin Umair Hadi al-Madkhali sehubungan boikot Syiah terhadap Dammaj</p>
<p>Kepada seluruh Ahlus Sunnah untuk membantu saudara kita di Dammaj</p>
<p>بسم الله الرحمن الرحيم<span id="more-763"></span></p>
<p>الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد</p>
<p>Telah sampai kepada kami berita sedih apa yang dilakukan rofidhoh, musuh-musuh Islam dan musuh-musuh para sahabat (radiyallahu ‘anhum) seperti memboikot dan memperlakukan saudara kami salafi di Dammaj dan sunni salafi di Markiz tersebut untuk memboikot dan permusuhan terhadap Islam dan pemeluknya (kaum muslimin)</p>
<p>Kami mengharapkan saudara-saudara kami di Dammaj untuk tetap berpegang teguh dengan sunnah dan memiliki kesabaran dan mencari bantuan dari sisi Allah dalam melawan pemberontakan ini dan permusuhan dari kaum rafidhoh</p>
<p>Kepada saudara-saudara kami Ahlussunnah untuk berdiri melawan pelanggaran (kelaliman,ed) ini dan untuk bersatu dalam membersihkan kotoran dari rafidhoh di Yaman dan lainnya -jika mereka mampu melakukannya-</p>
<p>Alloh Subhanahu wa Ta’ala Berkata:</p>
<p>“… Sesungguhnya Allah Maha Benar-Benar Kuat lagi Maha Perkasa” (Al-Hajj: 40)</p>
<p>Dia Alloh Subhanahu wa ta’ala juga mengatakan: “ Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir , atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa. (Ali Imran126-127)</p>
<p>Memang konflik antara Ahlu Sunnah dan rofidhoh sebagaimana konflik Islam dan orang kufur (kafir) sehingga Ahlus Sunnah dimana pun mereka berada di Yaman dan lainnya, maka bangkit untuk membantu saudara-saudara mereka dengan jiwa dan harta untuk mematahkan punggung rafidhah dan semua musuh Islam di mana pun mereka berada.</p>
<p>Sesungguhnya Robb-ku Maha Mendengar Do’a.</p>
<p>Ditulis oleh Rabi’ bin Umair Hadi al-Madkhali</p>
<p>4 Dzulhijjah 1432H</p>
<p>http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=124187 )</p>
<p>&#8212;&#8211; Teks Asli &#8212;&#8211;</p>
<p>دعوة إلى جميع أهل السنة لنصرة إخواننا في دماج</p>
<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه.</p>
<p>أما بعد:</p>
<p>فقد بلغنا مع الأسف ما يقوم به الروافض الباطنيون أعداء الإسلام وأعداء الصحابة الكرام من حصار وتهديد لإخواننا السلفيين في دماج ومركزه السلفي السني بغضاً وعدواة للإسلام وأهله.</p>
<p>فنوصي إخواننا في دماج بالثبات على السنة والصبر والاستعانة بالله في صد هذا البغي والعدوان الرافضي.</p>
<p>وعلى إخوانهم من أهل السنة أن ينهضوا معهم لمواجهة هذا الطغيان والقضاء على أهله وأن يُطهروا اليمن – وغيرها- من رجس الروافض إن استطاعوا ذلك، ﴿وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾.</p>
<p>﴿وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ * لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْ 602;َلِبُوا خَائِبِينَ﴾.</p>
<p>إنَّ الصراع بين أهل السنة والروافض الباطنية صراع بين الكفر والإسلام فعلى أهل السنة في كل مكان في اليمن وغيره أن يهبوا لنصرة إخوانهم بالنفس والمال ونسأل الله أن يقطع دابر الروافض الباطنية وكل أعداء الإسلام في كل مكان.</p>
<p>إن ربي لسميع الدعاء .</p>
<p>كتبه</p>
<p>ربيع بن هادي عمير المدخلي</p>
<p>4/12/1432هـ</p>
<p>Sumber:http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=124187%20)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/763/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=763&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/12/02/fatwa-himbauan-ulama-seputar-jihad-di-yaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pokok-Pokok Kesesatan Syi&#8217;ah</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/11/30/pokok-pokok-kesesatan-sekte-syiah/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/11/30/pokok-pokok-kesesatan-sekte-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 08:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah-Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=757</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql Asal-usul Syiah Syiah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara&#8217;, Syi&#8217;ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba&#8217;, seorang Yahudi dari Yaman. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, lalu Abdullah bin Saba&#8217; mengintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=757&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh : Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql</em></p>
<p><strong>Asal-usul Syiah</strong></p>
<p>Syiah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara&#8217;, Syi&#8217;ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba&#8217;, seorang Yahudi dari Yaman. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, lalu Abdullah bin Saba&#8217; mengintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca: imamah) sesudah Nabi shallallahu &#8216;alayhi wasallam sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi shallallahu &#8216;alayhi wasallam. Namun, menurut Abdullah bin Saba&#8217;, Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian mereka melarikan diri ke Madain. Aliran Syi&#8217;ah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke-2 hijriyah dan abad-abad berikutnya.</p>
<p><strong>Pokok-Pokok Penyimpangan Syiah pada Periode Pertama:</strong></p>
<p><strong>1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah shallallahu &#8216;alayhi wasallam adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi  shallallahu &#8216;alayhi wasallam. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib rhadiyallahu &#8216;anhu.<span id="more-757"></span></strong></p>
<p><strong>2. Keyakinan bahwa imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa)</strong></p>
<p><strong>3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.</strong></p>
<p><strong>4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.</strong></p>
<p><strong>5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba&#8217; dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib karena keyakinan tersebut.</strong></p>
<p><strong>6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut</strong></p>
<p><strong>7. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti : Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa&#8217; wal Firaq wal Bida&#8217; wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql hal. 237)  Pada abad ke-2 hijriyah, perkembangan keyakinan Syi&#8217;ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.</strong></p>
<p><strong><br />
Pokok-Pokok Penyimpangan Syi&#8217;ah Secara Umum:</strong></p>
<p><strong>1. Pada Rukun Iman:</strong></p>
<p>Syiah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Rasul dan Qadha dan Qadar- yaitu:</p>
<p>1. Tauhid (keesaanAllah), 2. Al-&#8217;Adl (keadilan Allah) 3. Nubuwwah (kenabian), 4. Imamah(kepemimpinan Imam), 5.Ma&#8217;ad (hari kebangkitan dan pembalasan).</p>
<p>(Lihat &#8216;Aqa&#8217;idul Imamiyah oleh Muhammad Ridha Mudhoffar dll)</p>
<p><strong>2. Pada Rukum Islam:</strong></p>
<p>Syiah <strong>tidak</strong> mencantumkan <strong>Syahadatain</strong> dalam rukun Islam, yaitu: 1.Shalat, 2.Zakat, 3.Puasa, 4.Haji, 5.Wilayah (perwalian) (lihat Al-Khafie juz II hal 18)</p>
<p><strong>3. Syi&#8217;ah meyakini bahwa Al-Qur&#8217;an sekarang ini telah dirubah, ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti:</strong></p>
<p>&#8220;wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna &#8216;ala &#8216;abdina FII &#8216;ALIYYIN fa`tu bi shuratim mim mits lih (Al-Kafie, Kitabul Hujjah: I/417)</p>
<p>Ada tambahan &#8220;fii &#8216;Aliyyin&#8221; dari teks asli Al-Qur&#8217;an yang berbunyi: &#8221;wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna &#8216;ala &#8216;abdina fa`tu bi shuratim mim mits lih&#8221; (Al-Baqarah:23) Karena itu mereka meyakini bahwa: Abu Abdillah a.s (imam Syiah) berkata: &#8220;Al-Qur&#8217;an yang dibawa oleh Jibril a.s kepada Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alayhi wasallam adalah 17.000 ayat (Al-Kafi fil Ushul Juz II hal.634). Al-Qur&#8217;an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi&#8217;ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fashlul Khithab karangan An-Nuri Ath-Thibrisy)4. Syi&#8217;ah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi  shallallahu &#8216;alayhi wasallam, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244)</p>
<p><strong>5. Syi&#8217;ah menggunakan senjata &#8220;taqiyyah&#8221; yaitu berbohong, dengan cara </strong><strong>menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk </strong><strong>mengelabui</strong> <strong>(Al Kafi fil Ushul Juz II hal.217)</strong></p>
<p><strong>6. Syi&#8217;ah percaya kepada Ar-Raj&#8217;ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya </strong><strong>masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka </strong><strong>keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya </strong><strong>untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.</strong></p>
<p><strong>7. Syi&#8217;ah percaya kepada Al-Bada&#8217;, yakni tampak bagi Allah dalam hal </strong><strong>keimaman Ismail (yang telah dinobatkan keimamannya oleh ayahnya, </strong><strong>Ja&#8217;far As-Shadiq, tetapi kemudian meninggal disaat ayahnya masih hidup) </strong><strong>yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi </strong><strong>Imam mereka tetap maksum (terjaga).</strong></p>
<p><strong>8. Syiah membolehkan &#8220;nikah mut&#8217;ah&#8221;, yaitu nikah kontrak dengan jangka </strong><strong>waktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shadiqin Juz II hal.493). Padahal hal </strong><strong>itu telah diharamkan oleh Rasulullah  shallallahu &#8216;alayhi wasallam yang diriwayatkan oleh Ali bin </strong><strong>Abi Thalib sendiri.</strong></p>
<p><strong><br />
Apa itu Nikah Mut&#8217;ah ?</strong></p>
<p>Nikah mut&#8217;ah ialah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, dimana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.</p>
<p><strong>Ada 6 perbedaan prinsip antara nikah mut&#8217;ah dan nikah sunni (syar&#8217;i):</strong></p>
<p>1. Nikah mut&#8217;ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.</p>
<p>2. Nikah mut&#8217;ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia</p>
<p>3. Nikah mut&#8217;ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya.</p>
<p>4. Nikah mut&#8217;ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal 4 orang.</p>
<p>5. Nikah mut&#8217;ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi, nikah sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi.</p>
<p>6. Nikah mut&#8217;ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri, nikah sunni mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.<br />
<strong><br />
Dalil-Dalil Haramnya Nikah Mut&#8217;ah</strong></p>
<p>Haramnya nikah mut&#8217;ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi  shallallahu &#8216;alayhi wasallam juga pendapat para ulama dari 4 madzhab.</p>
<p>Dalil dari hadits Nabi saw yang diwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma&#8217;bad AlJuhaini, ia berkata: &#8220;Kami bersama Rasulullah  shallallahu &#8216;alayhi wasallam dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: &#8220;Ada selimut seperti selimut&#8221;. Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjidil Haram, dan tiba-tiba aku melihat Rasulullah shallallahu &#8216;alayhi wasallam sedang berpidato diantara pintu Ka&#8217;bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda, <em><strong>&#8220;Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut&#8217;ah. Maka sekarang siapa yang memiliki istri dengan cara nikah mut&#8217;ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya, janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah azza wa jalla telah mengharamkan nikah mut&#8217;ah sampai Hari Kiamat (Shahih Muslim II/1024)</strong></em></p>
<p><em><strong>Dalil hadits lainnya: Dari Ali bin Abi Thalib ra. ia berkata kepada Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Muhammad  shallallahu &#8216;alayhi wasallam melarang nikah mut&#8217;ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar (Fathul Bari IX/71)</strong></em></p>
<p><strong><br />
Pendapat Para Ulama</strong></p>
<p>Berdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, para ulama berpendapat sebagai berikut:</p>
<p>• Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: &#8220;Nikah mut&#8217;ah ini bathil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada&#8217;i Al-Sana&#8217;i fi Tartib Al-Syara&#8217;i (II/272).mengatakan, &#8220;Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut&#8217;ah&#8221;• Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, &#8220;hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut&#8217;ah mencapai peringkat mutawatir&#8221; Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, &#8220;Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil.&#8221;</p>
<p>• Dari Madzhab Syafi&#8217;, Imam Syafi&#8217;i (wafat 204 H) dalam kitabnya AlUmm (V/85) mengatakan, &#8220;Nikah mut&#8217;ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan.&#8221; Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya AlMajmu&#8217; (XVII/356) mengatakan, &#8220;Nikah mut&#8217;ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu.&#8221;</p>
<p>• Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, &#8220;Nikah Mut&#8217;ah ini adalah nikah yang bathil.&#8221; Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut&#8217;ah adalah haram.</p>
<p>Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan Syi&#8217;ah. Kami ingatkan kepada kaum muslimin agar waspada terhadap ajakan para propagandis Syi&#8217;ah yang biasanya mereka berkedok dengan nama &#8220;Wajib mengikuti madzhab Ahlul Bait&#8221;, sementara pada hakikatnya Ahlul Bait berlepas diri dari mereka, itulah manipulasi mereka. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang lurus berdasarkan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih.</p>
<p><em>Sumber :<a href="http://shirotholmustaqim.files.wordpress.com/2009/11/kesesatan-syiah.pdf">http://shirotholmustaqim.files.wordpress.com/2009/11/kesesatan-syiah.pdf</a></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/757/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=757&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/11/30/pokok-pokok-kesesatan-sekte-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sunnah Berpuasa di Bulan Muharam</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/11/29/mendulang-pahala-di-bulan-muharam-dengan-puasa-asyuro/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/11/29/mendulang-pahala-di-bulan-muharam-dengan-puasa-asyuro/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 16:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=731</guid>
		<description><![CDATA[Oleh ustadz Ja’far Shalih Puasa selain merupakan ibadah yang mulia di sisi Allah Subhanahu wata’ala juga mengandung sekian banyak manfaat yang lain. Dengan berpuasa seseorang dapat mengendalikan syahwat dan hawa nafsunya. Dan puasa juga menjadi perisai dari api neraka. Puasa juga dapat menghapus dosa-dosa dan memberi syafaat di hari kiamat. Dan puasa juga dapat membangkitkan &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=731&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/11/muharam.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-732" title="muharam" src="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/11/muharam.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>Oleh ustadz Ja’far Shalih</em></p>
<p>Puasa selain merupakan ibadah yang mulia di sisi Allah Subhanahu wata’ala juga mengandung sekian banyak manfaat yang lain. Dengan berpuasa seseorang dapat mengendalikan syahwat dan hawa nafsunya. Dan puasa juga menjadi perisai dari api neraka. Puasa juga dapat menghapus dosa-dosa dan memberi syafaat di hari kiamat. Dan puasa juga dapat membangkitkan rasa solidaritas kemanusiaan, serta manfaat lainnya yang sudah dimaklumi terkandung pada ibadah yang mulia ini.</p>
<p>Pada bulan Muharram ada satu hari yang dikenal dengan sebutan hari ‘Asyura. Orang-orang jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ini. Hal tersebut karena pada hari ini Allah Subhanahu wata’ala selamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Bersyukur atas karunia Allah Subhanahu wata’ala kepadanya, Nabi Musa alaihis salam akhirnya berpuasa pada hari ini. Tatkala sampai berita ini kepada Nabi kita shalallaahu ‘alaihi wassalam, melalui orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda,<span id="more-731"></span></p>
<p dir="rtl">فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ</p>
<p>“Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi)”.</p>
<p>Yang demikian karena pada saat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam sampai di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah berpuasa pada hari ini, maka beliau sampaikan sabdanya sebagaimana di atas. Semenjak itu beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam memerintahkan ummatnya untuk berpuasa, sehingga jadilah puasa ‘Asyura diantara ibadah yang disukai di dalam Islam. Dan ketika itu puasa Ramadhan belum diwajibkan.<br />
Adalah Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu yang menceritakan kisah ini kepada kita sebagaimana yang terdapat di dalam Shahih Bukhari No 1900,</p>
<p dir="rtl">قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ</p>
<p>“Tatkala Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa alaihis salam berpuasa pada hari ini. Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR. Al Bukhari)</p>
<p>Dan dari Aisyah radhiallahu anha, ia mengisahkan,</p>
<p dir="rtl">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ</p>
<p>“Dahulu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR. Al Bukhari No 1897)</p>
<p><strong>Keutamaan puasa ‘Asyura di dalam Islam.</strong></p>
<p>Di masa hidupnya Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam berpuasa di hari ‘Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnya shalallaahu ‘alaihi wassalam. Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, ia berkata,</p>
<p dir="rtl">مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَااليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ</p>
<p>“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.</p>
<p>Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini. Oleh karena itu ketika beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam ditanya pada satu kesempatan tentang puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan, beliau menjawab bulan Allah Muharram. Dan Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda,</p>
<p dir="rtl">أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ</p>
<p>“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.</p>
<p>Dan puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah radhiallahu anhu,</p>
<p dir="rtl">وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ</p>
<p>“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.</p>
<p><strong>Hukum Puasa ‘Asyura</strong></p>
<p>Sebagian ulama salaf menganggap puasa ‘Asyura hukumnya wajib akan tetapi hadits ‘Aisyah di atas menegaskan bahwa kewajibannya telah dihapus dan menjadi ibadah yang mustahab (sunnah). Dan Al Imam Ibnu Abdilbarr menukil ijma’ ulama bahwa hukumnya adalah mustahab.</p>
<p><strong>Waktu Pelaksanaan Puasa ‘Asyura</strong></p>
<p>Jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari ‘Asyura adalah hari ke-10 di bulan Muharram. Di antara mereka adalah Said bin Musayyib, Al Hasan Al Bashri, Malik, Ahmad, Ishaq dan yang lainnya. Dan dikalangan ulama kontemporer seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah. Pada hari inilah Rasullah shalallaahu ‘alaihi wassalam semasa hidupnya melaksanakan puasa ‘Asyura. Dan kurang lebih setahun sebelum wafatnya, beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda,</p>
<p dir="rtl">لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ</p>
<p>“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”<br />
Para ulama berpendapat perkataan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam, “…aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”, mengandung kemungkinan beliau ingin memindahkan puasa tanggal 10 ke tanggal 9 Muharram dan beliau ingin menggabungkan keduanya dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura. Tapi ketika Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam ternyata wafat sebelum itu maka yang paling selamat adalah puasa pada kedua hari tersebut sekaligus, tanggal 9 dan 10 Muharram.<br />
<strong>Dan Al Imam Asy-Syaukani dan Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan puasa ‘Asyura ada tiga tingkatan. Yang pertama puasa di hari ke 10 saja, tingkatan kedua puasa di hari ke 9 dan ke 10 dan tingkatan ketiga puasa di hari 9,10 dan 11. Wallahua’lam</strong></p>
<p><strong>Sumber : <a href="http://www.ahlussunnah-jakarta.com/" target="_blank">http://www.ahlussunnah-jakarta.com/</a></strong></p>
<div></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/731/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=731&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/11/29/mendulang-pahala-di-bulan-muharam-dengan-puasa-asyuro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/11/muharam.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">muharam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Asal nge-Bom Bung !.. Tidak Semua Kafir Halal Dibunuh !</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/09/26/jangan-asal-nge-bom-bung-tidak-semua-kafir-halal-dibunuh/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/09/26/jangan-asal-nge-bom-bung-tidak-semua-kafir-halal-dibunuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 12:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=718</guid>
		<description><![CDATA[PENTING untuk kita ketahui dan ilmui bahwa  orang kafir dalam syari’at Islam terbagi empat : Pertama : Kafir dzimmy, yaitu orang kafir yang membayar jizyah (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka. Banyak dalil yang menunjukkan hal &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=718&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENTING untuk kita ketahui dan ilmui bahwa  orang kafir dalam syari’at Islam terbagi empat :</p>
<p><strong>Pertama </strong>: Kafir <em>dzimmy</em>, yaitu orang kafir yang membayar <em>jizyah</em> (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka.</p>
<p>Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut diantaranya firman Allah <em>Al-‘Azîz Al-Hakîm </em>:</p>
<p><em>“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan shôgirun (hina, rendah, patuh)”.</em> (<strong>QS. At-Taubah : 29</strong>).</p>
<p>Dan dalam hadits Buraidah <em>radhiyall</em>a<em>hu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shollall</em>a<em>hu ‘alaihi wa ‘al</em>a<em></em>a<em>lihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَّرَ أَمِيْرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِيْ خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللهِ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرًا ثُمَّ قَالَ أُغْزُوْا بِاسْمِ اللهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ قَاتِلُوْا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ أُغْزُوْا وَلاَ تَغُلُّوْا وَلاَ تَغْدِرُوْا وَلاَ تُمَثِّلُوْا وَلاَ تَقْتُلُوْا وَلِيْدًا وَإِذَا لَقِيْتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ فَإِنْ هُمْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَقَاتِلْهُمْ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Adalah Rasulull</em>a<em>h shollall</em>a<em>hu ‘alaihi wa ‘al</em>a<em> </em>a<em>lihi wa sallam apabila beliau mengangkat amir/pimpinan pasukan beliau memberikan wasiat khusus untuknya supaya bertakwa kepada Allah dan (berwasiat pada) orang-orang yang bersamanya dengan kebaikan. Kemudian beliau berkata : “Berperanglah kalian di jalan Allah dengan nama Allah, bunuhlah siapa yang kafir kepada Allah, berperanglah kalian dan jangan mencuri harta rampasan perang dan janganlah mengkhianati janji dan janganlah melakukan tamtsîl (mencincang atau merusak mayat) dan janganlah membunuh anak kecil dan apabila engkau berjumpa dengan musuhmu dari kaum musyrikin dakwailah mereka kepada tiga perkara, apa saja yang mereka jawab dari tiga perkara itu maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka ; serulah mereka kepada Islam apabila mereka menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah jizyah (upeti) dari mereka dan </em><em>apabila mereka memberi maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah kemudian perangi mereka”.</em> <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn1">[1]</a> <span id="more-718"></span></p>
<p>Dan dalam hadits Al-Mughîroh bin Syu’bah <em>radhiyall</em>a<em>hu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>أَمَرَنَا رَسُوْلُ رَبِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُقَاتِلَكُمْ حَتَّى تَعْبُدُوْا اللهَ وَحْدَهُ أَوْ تُؤَدُّوْا الْجِزْيَةَ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Kami diperintah oleh Rasul Rabb kami shollall</em>a<em>hu ‘alaihi wa ‘al</em>a<em> </em>a<em>lihi wa sallam untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah Allah satu-satunya atau kalian membayar Jizyah”.</em> <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Kedua</strong> : Kafir <em>mu’</em>a<em>had</em>, yaitu orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Dan kafir seperti ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat.</p>
<p>Allah <em>Jalla Dzikruhu</em> berfirman,</p>
<p><em>“Maka selama mereka berlaku istiqomah terhadap kalian, hendaklah kalian berlaku istiqomah (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”.</em> (QS<strong>. At-Taubah : 7</strong>).</p>
<p>Dan Allah berfirman,<strong></strong></p>
<p><strong></strong><em>“Kecuali orang-orang musyrikin yang kalian telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi dari kalian sesuatu pun (dari isi perjanjian) dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kalian, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”.</em> (<strong>QS. At-Taubah : 4</strong>).</p>
<p>Dan Allah <em>Jallat ‘Azhomatuhu</em> menegaskan dalam firman-Nya,</p>
<p><em>“Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin kekafiran itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti”.</em> (<strong>QS. At-Taubah : 12</strong>).</p>
<p>Dan Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> menegaskan,</p>
<p><em>“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.</em> <em>(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).”</em> (<strong>QS. AL-Anf</strong>a<strong>l : 55-56</strong>)</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa </em>a<em>lihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا</strong></p>
<p><em>“Siapa yang membunuh kafir Mu’</em>a<em>had ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”.</em><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahull</em>a<em>h</em> berpendapat bahwa kata <em>Mu’</em>a<em>had</em> dalam hadits di atas mempunyai cakupan yang lebih luas. Beliau berkata, “Dan yang diinginkan dengan (<em>Mu’</em>a<em>had</em>) adalah setiap yang mempunyai perjanjian dengan kaum muslimin, baik dengan akad <em>jizyah</em><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn4">[4]</a>, perjanjian dari penguasa<a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn5">[5]</a>, atau jaminan keamanan<a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn6">[6]</a> dari seorang muslim.” <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Dan Nabi <em>shollall</em>a<em>hu ‘alaihi wa ‘al</em>a<em> </em>a<em>lihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ</strong> <strong>أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong></p>
<p><em>“Ingatlah, siapa yang menzholimi seorang mu’</em>a<em>had, merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat.”</em> <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Kafir <em>musta’man</em>, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan.</p>
<p>Allah <em>Subh</em>a<em>nahu wa Ta’</em>a<em>l</em>a<em> </em>berfirman,</p>
<p><em>“Dan jika seorang di antara kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia agar ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”.</em> (<strong>QS. At-Taubah : 6</strong>).</p>
<p>Dan dalam hadits ‘Ali bin Abi Tholib <em>radhiyall</em>a<em>hu ‘anhu,</em> Rasulullah <em>shollall</em>a<em>hu ‘alaihi wa ‘al</em>a<em> </em>a<em>lihi wa sallam</em> berpesan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>ذِمَّةُ الْمُسْلِمِيْنَ وَاحِدَةٌ يَسْعَى بِهَا أَدْنَاهُمْ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Dzimmah (janji, jaminan keamanan dan tanggung jawab) kaum muslimin itu satu, diusahakan oleh orang yang paling bawah (sekalipun)”.</em> <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Berkata Imam An-Nawawy <em>rahimahull</em>a<em>h </em>: “Yang diinginkan dengan Dzimmah di sini adalah <em>Am</em>a<em>n</em> (jaminan keamanan). Maknanya bahwa <em>Am</em>a<em>n</em> kaum muslimin kepada orang kafir itu adalah sah (diakui), maka siapa yang diberikan kepadanya <em>Am</em>a<em>n</em> dari seorang muslim maka haram atas (muslim) yang lainnya mengganggunya sepanjang ia masih berada dalam <em>Am</em>a<em>n</em>nya.”</p>
<p>Dan dalam hadits Ummu Hani` <em>radhiyall</em>a<em>hu ‘anh</em>a, beliau berkata,</p>
<p dir="rtl"><strong>يَا رَسُوْلَ اللهِ زَعَمَ ابْنُ أُمِّيْ أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلاً قَدْ أَجَرْتُهُ فَلاَنَ بْنَ هُبَيْرَةَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ</strong></p>
<p><em>“Wahai Rasulullah anak ibuku (yaitu ‘Ali bin Abi Tholib,-pent) menyangka bahwa ia boleh membunuh orang yang telah saya lindungi (yaitu) si Fulan bin Hubairah. Maka Rasulull</em>a<em>h shollall</em>a<em>hu ‘alaihi wa ‘al</em>a<em> </em>a<em>lihi wa sallam bersabda, “Kami telah lindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani`”.”</em><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p><strong>Keempat</strong> : Kafir <em>harby</em>, yaitu kafir selain tiga di atas. Kafir jenis inilah yang disyari’atkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam.</p>
<p>Demikianlah pembagian orang kafir telah masyhur dalam uraian para ulama seperti Imam Empat, Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah, Ibnul Qayyim dan lain-lainnya. Dan dari ulama masa kini seperti Syaikh Ibnu Baz (w. 1420 H), Syaikh Al-Albany (w. 1420 H), Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy (w. 1422 H), Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (w. 1421 H), Syaikh Sholih Al-Fauzan, Syaikh ‘Abdullah Al-Bassam (w. 1424 H) dan lain-lainnya. Dan bagi siapa yang menelaah buku-buku fiqih dari berbagai madzhab akan menemukan benarnya pembagian ini tanpa perselisihan.</p>
<p>Dan harus kami tegaskan disini, bahwa tiga kafir di atas, yaitu kafir <em>dzimmi</em>, <em>mu’</em>a<em>had</em>dan <em>musta`man</em> adalah termasuk jiwa yang diharamkan untuk dibunuh sebagaimana yang telah lalu, dan sebagaimana yang ditegaskan dalam firman-Nya,</p>
<p><em>“Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.”</em> (<strong>QS. Al-An’</strong>a<strong>m : 151</strong>)</p>
<p>Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy <em>rahimahull</em>a<em>h</em>, “Dan firman-Nya “<em>Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar</em>” dia adalah jiwa muslim, baik laki-laki dan perempuan, kecil dan besar, dan (jiwa) kafir yang terlindung dengan perjanjian dan keterikatan.”</p>
<p>Dan berkata Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimîn <em>rahimahull</em>a<em>h</em>, “Dan jiwa yang diharamkan oleh Allah adalah jiwa yang terjaga, yaitu jiwa seorang muslim, (kafir)<em>dzimmi</em>, <em>mu’</em>a<em>had</em> dan <em>mus`tamin</em>.” <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Dan berkata guru kami, Syaikh Sholih Al-Fauzan <em>hafizhohull</em>a<em>h</em>, “Jiwa yang diharamkan oleh Allah adalah jiwa mukmin. Dan demikian pula jiwa <em>mu’</em>a<em>had</em>, walaupun dia kafir namun Allah mengharamkan membunuh jiwa mukminin dan juga mengharamkan membunuh jiwa para <em>mu’</em>a<em>had</em> dari kaum kuffar yang ada perjanjian dengan kaum muslimin dalam masalah <em>dzimmah</em> atau jaminan keamanan. <em>Dzimmah</em>adalah mereka membayar <em>jizyah</em> atau mereka yang masuk ke negara kita dengan jaminan keamanan. Tidak boleh membunuh dan melampaui batas terhadap mereka, karena mereka berada dalam <em>dzimmah</em> kaum muslimin dan dalam jaminan keamanan kaum muslimin. Tidak boleh mengkhianati <em>dzimmah</em> kaum muslimin, karena itu datang dalam hadits <em>“Siapa yang membunuh kafir mu’</em>a<em>had ia tidak akan mencium baunya sorga.”</em>.” <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Dan berikut ini beberapa pernyataan para ulama umat.</p>
<p>Berkata Ibnu ‘Abddil Barr (w. 463 H) <em>rahimahull</em>a<em>h</em>, “Dan saya tidak mengetahui ada silang pendapat di kalangan para ulama bahwa siapa yang memberi jaminan keamanan kepada seorang kafir harby dengan bentuk pernyataan yang dipahami bahwa ia memberi keamanan, maka telah (terjalin) sempurna jaminan keamanan untuknya. Dan kebanyakan para ulama berpendapat bahwa walaupun sekedar isyarat, namun dipahami, maka hal itu terhitung jaminan keamanan sebagaimana halnya pernyataan.”<a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Dan berkata Ibnul Qayyim <em>rahimahull</em>a<em>h</em>, “Adapun (kafir) musta`man, ia adalah orang yang masuk ke negara kaum muslimin bukan untuk menetap padanya. Mereka ini empat macam; (1) para utusan, (2) para pedagang, (3) orang-orang yang meminta perlindungan untuk dihadapkan kepadanya keislaman dan Al-Qur`an, kalau mereka ingin, mereka masuk ke dalam (Islam), dan kalau mereka ingin, mereka ke negeri mereka, (4) serta orang-orang yang punya hajat berupa kunjungan dan selainnya. Hukum terhadap mereka adalah tidak boleh diboikot, tidak boleh dibunuh, tidak boleh dipungut jizyah darinya, dan terhadap orang-orang yang meminta perlindungan agar diperlihatkan kepada mereka keislaman dan Al-Qur`an, kalau mereka masuk (Islam), maka itu (yang diinginkan), kalau mereka ingin kembali kepada keamanannya (negaranya,pent.), mereka dibiarkan kembali.” <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Berkata Imam Asy-Syaukany (w. 1250 H) <em>rahimahull</em>a<em>h</em>, “<em>Mu’</em>a<em>had</em> adalah seorang kafir <em>harby</em> yang masuk ke negeri Islam dengan jaminan keamanan, maka haram terhadap kaum muslimin untuk membunuhnya hingga ia kembali kepada keamanannya (negaranya) tanpa ada silang pendapat di kalangan penganut Islam.” <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Dan banyak lagi ucapan para ulama dalam masalah ini, sangatlah panjang untuk menyebutkan seluruhnya. Namun kami akan menutup pembahasan pembagian orang kafir ini dengan beberapa fatwa para ulama abad ini, selain dari apa yang telah disebutkan. <em>Wall</em>a<em>hul Musta’</em>a<em>n</em>.</p>
<p><strong>Fatwa Syaikh Ibnu B</strong>a<strong>z Tentang Mengganggu Turis Dan Tamu Asing</strong></p>
<p>Dalam kumpulan fatwa-fatwa beliau jilid 8 halaman 229, beliau ditanya,</p>
<p>“Apa hukum menganiaya turis-turis asing dan para tamu di negeri-negeri Islam?”.</p>
<p>Beliau menjawab,</p>
<p>“Ini tidak boleh, menganiaya siapa saja tidak boleh. Apakah itu para turis atau para pekerja, karena mereka adalah <em>musta’man</em> (orang yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah). Mereka masuk dengan jaminan keamanan, maka tidak boleh menganiaya mereka. Tetapi pemerintah hendaknya dinasehati sehinga melarang apa-apa yang tidak patut untuk ditampakkan. Adapun menganiaya mereka, maka itu tidak boleh. Adapun individu-individu manusia, tidak ada hak bagi mereka untuk membunuh, memukul dan menyakiti mereka (para turis tersebut), bahkan kewajiban mereka untuk mengangkat perkara (yang perlu diperbaiki menurut pandangan mereka,-pent.) kepada pemerintah, karena menganiaya mereka adalah berarti menganiaya orang-orang yang telah masuk dengan jaminan keamanan. Maka tidak boleh menganiaya mereka akan tetapi perkara mereka diangkat kepada orang yang mampu menahan masuknya mereka atau menahan mereka dari kemungkaran yang zhohir. Adapun menasehati dan mendakwahi mereka kepada Islam atau meninggalkan kemungkaran apabila mereka telah muslim, maka itulah perkara yang diinginkan. Dalil-dalil syari’at meliputi hal-hal tersebut. <em>Wallahul Musta’an wa la Haula wa la Quwwata Illa billah</em>, serta shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya dan para shahabatnya.”</p>
<p><strong>Keputusan Haiah Kibarul Ulama Saudi Arabia 13/7/1417 H</strong></p>
<p>“Jiwa yang terjaga dalam hukum syari’at Islam adalah semua (jiwa) muslim atau semua (kafir) yang antara dia dengan kaum muslimin ada <em>am</em>a<em>n </em>(jaminan keamanan) sebagaimana firman (Allah) <em>Ta’</em>a<em>l</em>a :</p>
<p><em>“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. </em>(<strong>QS. An-Nis</strong>a<strong>` : 93</strong>)</p>
<p>Dan (Allah) <em>Subh</em>a<em>nahu</em> berfirman tentang hukum kafir dzimmy yang terbunuh tanpa sengaja,</p>
<p><em>“Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin”.</em>(<strong>QS An-Nis</strong>a<strong>` : 92</strong>)</p>
<p>Maka jika kafir dzimmy yang memiliki jaminan keamanan, bila dibunuh tanpa sengaja padanya ada diyah dan kaffarah, maka bagaimana pula jika dibunuh dengan sengaja?, tentunya kekejiannya lebih hebat dan dosanya lebih besar. Dan telah shohîh dari Rasulullah <em>shollall</em>a<em>hu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa beliau bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang membunuh kafir mu’</em>a<em>had maka dia tidak akan mencium baunya Surga”. </em><strong>HR. Al-Bukh</strong>a<strong>ry</strong>.<a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Maka tidak boleh mengganggu (kafir) musta`man, apalagi membunuhnya seperti (yang terjadi pada) kekejian yang besar dan mungkar ini. Dan ini adalah ancaman yang keras terhadap siapa yang membunuh (kafir) mu’ahad, dan sesungguhnya hal itu termasuk dari dosa-dosa besar yang diancam dengan tidak masuknya si pembunuh ke dalam Surga, kita berlindung kepada Allah dari segala kehinaan.”</p>
<p><strong>Fatwa Syaikh Al-Alb</strong>a<strong>ny Tentang Mengganggu turis Asing</strong></p>
<p>Beliau berkata dalam sebuah kaset terekam, “Apabila seorang kafir dari para pesiar atau turis tersebut masuk, mereka tidaklah masuk ke negara kita yang Islamy kecuali dengan izin dari seorang hakim (penguasa) muslim. Karena itu, tidak boleh melampaui batas terhadapnya, sebab ia adalah seorang (kafir) mu’ahad. Kemudian andaikata hal tersebut terjadi, -dan telah terjadi lebih dari sekali dimana seorang muslim melampaui batas terhadap salah seorang dari mereka-, maka akibat hal tersebut dia akan terbunuh atau lebih dari itu, atau ia dipenjara, atau …, atau …, sehingga pelampauan batas terhadap darah pesiar seperti ini dan di negeri Islam tidaklah tercapai dibelakangnya suatu manfaat islamy, bahkan ia telah menyelisihi hadits yang telah lalu penyebutannya,</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا فِيْ كُنْهِهِ &#8211; أَيْ فِيْ عَهْدِهِ وَأَمَانِهِ- فَلَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ</strong></p>
<p><em>“Siapa yang membunuh (kafir) mu’</em>a<em>had dalam kunhi-nya –yaitu dalam penjanjian dan jaminan keamanan padanya-, maka ia tidak akan mencium baunya sorga.<a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn17"><strong>[17]</strong></a>”</em><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftn18">[18]</a></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr size="1" />
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref1">[1]</a> Telah berlalu takhrijnya.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref2">[2]</a> Hadits riwayat Al-Bukhary no. 3158.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref3">[3]</a> Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr <em>radhiyall</em>a<em>hu ‘anhum</em>a riwayat Al-Bukhary no. 3166, 6914, An-Nasa`i 8/25 dan Ibnu Majah no. 2686.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref4">[4]</a> Yaitu kafir <em>Dzimmi</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref5">[5]</a> Yaitu kafir <em>Mu’</em>a<em>had</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref6">[6]</a> Yaitu kafir <em>Musta`man</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref7">[7]</a> <strong><em>Fathul B</em></strong>a<strong><em>ry</em></strong> 12/259.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref8">[8]</a> Hadits riwayat Abu Daud no. 3052 dan Al-Baihaqy 9/205. Dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam <strong><em>Silsilah Al-Ah</em></strong>a<strong><em>dîts Ash-Shohîhah</em></strong> no. 445.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref9">[9]</a> Hadits riwayat Al-Bukhary no. 3179, 6755, 7300, Muslim no. 1370, Abu Daud no. 2034 dan At-Tirmidzy no. 2132.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref10">[10]</a> Hadits riwayat Al-Bukhary no. 357, 3171, 6158 dan Muslim 1/517-518 no. 337 (<strong>Kit</strong>a<strong>b Shal</strong>a<strong>tul Mus</strong>a<strong>firîn wa Qashrih</strong>a).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref11">[11]</a> <strong><em>Al-Qaul Al-Mufîd</em></strong> 1/38.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref12">[12]</a> <strong><em>I’</em></strong>a<strong><em>natul Mustafîd</em></strong> 1/33.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref13">[13]</a> <strong><em>Al-Istidzk</em></strong>a<strong><em>r</em></strong> 5/36.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref14">[14]</a> <strong><em>Ahk</em></strong>a<strong><em>m Ahludz Dzimmah</em></strong> 2/475.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref15">[15]</a> <strong><em>Nailul Auth</em></strong>o<strong><em>r</em></strong> 7/155.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref16">[16]</a> Telah berlalu takhrijnya, -pen.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref17">[17]</a> Dikeluarkan oleh Ath-Thayalisi no. 879, Ahmad 5/36, 38, Ad-Darimy 2/308, Ibnu Abi Syaibah 5/457, Ibnul Jarûd no. 835, 1070, Abu Daud no. 2760, An-Nasa`i 8/24, Al-Hakim 2/142 dan Al-Baihaqi 9/231 dari Jalan ‘Uyainah bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Bakrah <em>radhiyall</em>a<em>hu ‘anhu</em>. Dan dishohîhkan oleh Al-Albani dalam <strong><em>Shohîh Abi D</em></strong>a<strong><em>ud</em></strong> dan <strong><em>Shohîh An-Nas</em></strong>a<strong><em>`i</em></strong> dan guru kami, Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad 2/248 no. 1183 (cet. Pertama). -pen.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html#_ftnref18">[18]</a> Demikian ucapan beliau dari sebuah kaset rekaman, kami dinukil dengan perantara kitab “<strong><em>Al-Qaul Al-Amîn fii Tahdzîril Muslimîn Minal I’tid</em></strong>a<strong><em>` ‘Alal Mu’</em></strong>a<strong><em>hadin Wal Musta`manîn</em></strong>” karya Sholih Al-Bakry.</p>
<p>Sumber : <a href="http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html">http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html</a> dengan sedikit perubahan pada judul.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/718/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=718&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/09/26/jangan-asal-nge-bom-bung-tidak-semua-kafir-halal-dibunuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mari Kenali Kaidah Tentang Bid&#8217;ah Sebelum Membantah..</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/09/25/mari-kenali-kaidah-tentang-bidah-sebelum-membantah/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/09/25/mari-kenali-kaidah-tentang-bidah-sebelum-membantah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 16:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah-Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=713</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah beberapa kaidah mengenai Bid&#8217;ah yang saya kutip dari Buku &#8220;Salafy antara Tuduhan dan Kenyataan ( Bantahan Ilmiah Terhadap buku :Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Karya Syaikh Idahram), yang ditulis oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray halaman: 158-159  ======================== Agar dapat memahami masalah ini ulama membagi Bid&#8217;ah menjadi 2 bentuk, yaitu : 1. &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=713&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/09/bidah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-714" title="bid'ah" src="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/09/bidah.jpg?w=150&#038;h=133" alt="" width="150" height="133" /></a>Berikut adalah beberapa kaidah mengenai Bid&#8217;ah yang saya kutip dari Buku <em><strong>&#8220;Salafy antara Tuduhan dan Kenyataan ( Bantahan Ilmiah Terhadap buku :Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Karya Syaikh Idahram), yang ditulis oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray halaman: 158-159 </strong></em><br />
========================</p>
<p>Agar dapat memahami masalah ini ulama membagi Bid&#8217;ah menjadi 2 bentuk, yaitu :</p>
<p>1. Bid&#8217;ah <strong>ASHILYYAH  atau HAQIQIYYAH</strong>, yaitu bid&#8217;ah yang tidak berdasarkan dalil sama sekali, tidak dari Al-Qur&#8217;an, As-Sunnah, Ijma&#8217; dan istidlal yang diakui (mu&#8217;tabar) oleh ahli ilmu, tidak secara global maupun terperinci, oleh karenanya dinamakan BID&#8217;AH, karena merupakan sesuatu yang baru tanpa  ada contoh sebelumnya. <strong>*)</strong><br />
Contoh bid&#8217;ah ashilyyah atau haqiqiyyah adalah lafaz-lafaz dzikir dan shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil, seperti<em><strong> shalawat naariyyah, shalawat badar dan lain-lain.</strong></em></p>
<p>2.  Bid&#8217;ah <strong>IDHAFIYYAH</strong> (yang disandarkan), adalah sesuatu yang memiliki dua sisi, di satu sisi sesuai sunnah karena berdasarkan dalil, di sisi yang lain merupakan bid&#8217;ah karena tidak berdasarkan dalil. <strong>**)<span id="more-713"></span></strong><br />
Contohnya adalah lafaz-lafaz dzikir atau shalawat yang berdasarkan dalil, namun dalam pelaksanaannya terdapat kebid&#8217;ahan, seperti ucapan tahlil :<strong> Laa Ilaaha Illallah</strong>.</p>
<p><strong>Tidak diragukan lagi ini adalah lafaz dzikir yang disyari&#8217;atkan, namun jika seseorang menentukan jumlah tertentu yang tidak ditentukan oleh syari&#8217;at, seperti 1000 kali dalam sehari maka penentuan jumlah ini adalah BID&#8217;AH karena tidak berdasarkan dalil.</strong></p>
<p>Untuk mengetahui bid&#8217;ah idhafiyyah dapat dilihat  dari 6 (enam) sisi <strong>***)</strong>, yaitu :<br />
<strong>1. Sebab melakukan ibadah</strong><br />
<strong>2. Jenis (seperti jenis hewan yang disyari&#8217;atkan untuk kurban)</strong><br />
<strong>3. Bilangan (ketentuan jumlah)</strong><br />
<strong>4. Tata cara (kaifiyyah) beribadah</strong><br />
<strong>5. Waktu beribadah</strong><br />
<strong>6. Tempat beribadah </strong></p>
<p>Jadi, TIDAK cukup lafaz dzikir yang sesuai dalil saja, keenam sisi inipun harus sesuai dalil, jika tidak maka menjadi BID&#8217;AH.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam bish-shawab</em></p>
<p>=======<br />
<em>Catatan Kaki :</em><br />
<em>*) Lihat Al-I&#8217; tishom, Al-Imam Asy-Syatibi, 1/367, sebagaimana dalam pebahasan Nurus Sunnah wa Zhulumaatul Bid&#8217;ah, dalam kitab Aqidatul Muslim, Syaikh Dr. Sa&#8217;id bin Ali bin Wafh Al- Qahthani Hafizhahullah, 1/723.</em></p>
<p><em>**) Lihat Al-I&#8217; tishom, Al-Imam Asy-Syatibi, 1/367, 445, sebagaimana dalam pebahasan Nurus Sunnah wa Zhulumaatul Bid&#8217;ah, dalam kitab Aqidatul Muslim, Syaikh Dr. Sa&#8217;id bin Ali bin Wafh Al- Qahthani Hafizhahullah, 1/723- 724.</em></p>
<p><em>***) Al-Ibda &#8216; fi Kamaal As-Syar&#8217;i wa Khatharil ibtida&#8217;, Asy- Syaikh Al-&#8217;Utsaimin, hal. 21-23.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/713/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=713&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/09/25/mari-kenali-kaidah-tentang-bidah-sebelum-membantah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/09/bidah.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">bid&#039;ah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ber-Idul Fitri di atas Sunnah NABI Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/08/24/ber-idul-fitri-di-atas-sunnah-nabi-shalallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/08/24/ber-idul-fitri-di-atas-sunnah-nabi-shalallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 04:33:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Idul Fitri merupakan salah satu hari raya yang Allah Subhanallahu wa Ta’la anugerahkan kepada kaum muslimin. Dinamakan Idul Fitri karena ia selalu berulang setiap tahun dengan penuh kegembiraan. Diantara bentuk kegembiraan itu adalah makan, minum, menggauli istri dan lain sebagainya dari hal-hal mubah yang sebelumnya tidak boleh dilakukan di siang &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=707&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/08/id-fithri.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-708" title="id fithri" src="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/08/id-fithri.jpg?w=600" alt=""   /></a>Penulis: Buletin Islam Al Ilmu</em></p>
<p>Idul Fitri merupakan salah satu hari raya yang Allah Subhanallahu wa Ta’la anugerahkan kepada kaum muslimin. Dinamakan Idul Fitri karena ia selalu berulang setiap tahun dengan penuh kegembiraan. Diantara bentuk kegembiraan itu adalah makan, minum, menggauli istri dan lain sebagainya dari hal-hal mubah yang sebelumnya tidak boleh dilakukan di siang hari bulan Ramadhan. Namun akan lebih menjadi bermakna, tatkala hari yang mulia tersebut dipenuhi dengan amalan-amalan yang sesuai dengan sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.</p>
<p>Kapan Kita BerIdul Fitri?</p>
<p>Hari raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 1 Syawwal yang dihasilkan dari ru’yatul hilal bukan dengan ilmu hisab. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:</p>
<p>“Berpuasalah berdasarkan ru’yatul hilal dan berhari rayalah berdasarkan ru’yatul hilal. Jika terhalangi oleh mendung (atau semisalnya) maka genapkan bilangan hari bulan tersebut menjadi 30 hari.” (HR. Al-Bukhari)<span id="more-707"></span></p>
<p>Idul Fitri dan juga shaum (puasa) Ramadhan merupakan syiar keutuhan dan kebersamaan. Namun sangat disayangkan, terkadang syiar ini ternodai oleh perselisihan dan perpecahan di antara kaum muslimin dalam menentukan Idul Fitri ataupun masuknya bulan Ramadhan. Padahal Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:</p>
<p>“Shaum (puasa) itu pada waktu berpuasanya kalian (kaum muslimin), Idul Fitri pada saat kalian (kaum muslimin) berhari raya Idul Fitri, dan berkurban pada saat kaum muslimin berkurban.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih)</p>
<p>Oleh karenanya, para ulama terpandang  seperti Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin d menasehatkan agar setiap muslim mengikuti pemerintahnya masing-masing. (Lihat Tamamul Minnah hal. 398 dan Asy-Syarhul Mumti’ 6/322)</p>
<p>Di samping itu, kami juga mewasiatkan kepada pemerintah -semoga Allah Subhanallahu wa Ta’la merahmati mereka- agar melandaskan keputusan masuk dan keluarnya Ramadhan secara syar’i, yaitu dengan ru’yatul hilal dan bukan dengan ilmu hisab.</p>
<p>Hukum Shalat Id<br /> =============<br /> Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini menjadi tiga pendapat yaitu: sunnah, wajib kifayah, dan wajib ‘ain. (Lihat Fathul Bari 8/423-424, karya Ibnu Rajab rahimahullah).</p>
<p>Namun perlu diketahui bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum senantiasa mengerjakan shalat tersebut bahkan beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan para gadis dan wanita haidh untuk keluar menuju ke mushalla Id (tanah lapang).</p>
<p>Di Mana Kita Shalat Id dan Apa Tuntunan Syari’at terkait perihal Menuju Tempat Shalat tersebut?<br /> =================<br /> Shalat Id secara syari’at dilaksanakan di mushalla Id (tanah lapang) bukan di masjid, dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum, dalam keadaan mereka sangat memahami keutamaan shalat di Masjid Nabawi yang menyamai seribu kali shalat di selainnya (kecuali Masjidil Haram). Tetapi dengan semua itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, Khulafaur Rasyidin dan seluruh sahabatnya radliyallahu ‘anhum tetap melaksanakan shalat Id di mushalla (tanah lapang). Hal ini berlandaskan hadits Abu Sa’id Al Khudri radliyallahu ‘anhu, beliau berkata:</p>
<p>“Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam selalu keluar menuju mushalla (tanah lapang) untuk melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha…” (HR. Al-Bukhari no. 956)</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sesuai dengan hadits-hadits yang shahih menunjukkan bahwa beliau selalu mengerjakan dua shalat Id di tanah lapang pinggiran kampung, dan ini terus berkelanjutan di masa generasi pertama (umat ini), mereka tidak melaksanakan di masjid-masjid kecuali bila ada udzur atau dalam keadaan darurat, seperti hujan dan sejenisnya. Inilah madzhab imam yang empat dan selain mereka dari para imam.” (Lihat Shalatul ‘Idaini fil Mushalla Hiyas Sunnah, hal. 35).</p>
<p>Sehingga sangat berlebihan orang yang mengatakan bahwa shalat Id tidak boleh dilaksanakan di masjid walaupun ada udzur atau dalam keadaan darurat, demikian pula orang yang mengatakan bahwa tidak ada shalat kalau tidak di tanah lapang.<br /> Adab-adab menuju mushalla (tanah lapang)</p>
<p>Pertama: Berhias dengan pakaian yang terbaik (yang dia miliki), sebagaimana hadits Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma. (HR. Al-Bukhari no. 948)</p>
<p>Kedua: Makan beberapa butir kurma sebelum berangkat, sebagaimana hadits Anas radliyallahu ‘anhu. (HR. Al-Bukhari no. 953)</p>
<p>Ketiga: Berangkat dan pulang melewati jalan yang berbeda, sebagaimana hadits Jabir radliyallahu ‘anhu. (HR. Al-Bukhari no. 986)</p>
<p>Keempat: Mengeraskan takbir semenjak keluar dari rumah sampai ditegakkannya shalat. (Lihat Ash Shahihah 1/279)</p>
<p>Adapun lafazh takbirnya, maka tidak ada satupun hadits yang shahih yang menentukan bacaannya. Hanya saja terdapat beberapa atsar sahabat yang shahih yang menerangkan bacaan tersebut. Diantaranya:</p>
<p>Allahu Akbar Allahu Akbar, Laailaaha illallahu Wallahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamdu atau</p>
<p>Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laailaaha illallahu Wallahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamdu, atau yang lainnya. (Lihat Al-Irwa’ 3/125-126)</p>
<p>Di dalam bertakbir tidak disyariatkan untuk dikerjakan secara berjama’ah dengan satu suara. (Lihat Ash-Shahihah 1/279)</p>
<p>Perlu diingatkan, apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dengan menambahkan shalawat di sela-sela takbir. Hal ini merupakan suatu kekeliruan, karena tidak pernah dinukilkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, Khulafaur Rasyidin dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhuma.</p>
<p>Apa Yang Dilakukan Setiba Di Tempat Mushalla Id?<br /> ============================<br /> Ketika tiba di tempat shalat, hendaknya terus bertakbir hingga imam memulai shalat. Adapun shalat sunnah qabliyyah dan ba’diyyah Id, maka tidak ada tuntunannya, sebagaimana hadits Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma:</p>
<p>“…(Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam) belum pernah sholat  (sunnah) sebelum shalat Id ataupun sesudahnya…”. (HR. Al-Bukhari no. 989)</p>
<p>Tidak Ada Adzan  dan Iqamah<br /> ======================<br /> Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits Jabir radliyallahu ‘anhu (HR. Muslim no. 887). Adapun ucapan: “Ash Shalaatu Jaami’ah”, maka Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Yang sunnah adalah tidak mengucapkan itu semua.” (Lihat Zaadul Ma’ad 1/427).</p>
<p>Wajibnya Shalat Menghadap Sutrah<br /> ======================<br /> Sutrah adalah sesuatu yang diletakkan di depan orang yang shalat untuk menghalangi orang yang melewati di hadapannya. Memakai sutrah merupakan perkara yang wajib bagi imam dalam shalat berjama’ah, berdasarkan hadits Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma. Beliau berkata:</p>
<p>“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam jika keluar menuju shalat Id ke tanah lapang, beliau memerintahkan dibawakan tombak yang ditancapkan di hadapannya kemudian shalat menghadap tombak tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 494 dan 972).<br /> Tata Cara Shalat Id<br /> =============<br /> Shalat Id berjumlah dua rakaat, dimulai dengan takbiratul ihram, kemudian bertakbir 7 kali (selebihnya seperti shalat lainnya). Pada rakaat kedua bertakbir 5 kali selain takbir perpindahan gerakan dari rakaat kesatu menuju rakaat kedua, (selebihnya seperti shalat lainnya). Hal ini yang dijelaskan oleh Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah dalam Syarhus Sunnah 4/309. Di antara dasar tata caranya adalah hadits Aisyah radliyallahu ‘anha yang diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya dengan sanad shahih. (Lihat Al-Irwa’ no. 639)</p>
<p>Adapun bacaan surat yang disunnahkan padanya adalah Surat Qof dan Al-Qomar. (HR. Muslim no. 892), atau  Surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah (HR. Muslim no. 878)</p>
<p>Dan jika ketinggalan shalat bersama imam, maka shalat 2 rakaat yang dilakukan secara sendirian. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Bab: Jika Ketinggalan Shalat Id Maka Shalat 2 Rakaat”. (Lihat Fathul Bari 2/550, karya Ibnu Hajar rahimahullah)<br /> Bagaimana Dengan Wanita?<br /> ===================<br /> Kaum wanita diperintah oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk menghadiri shalat Id, sebagaimana perkataan Ummu ‘Athiyyah radliyallahu ‘anha: “Kami diperintah untuk menghadirkan gadis-gadis dan wanita-wanita haidh pada 2 hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha -red), agar mereka menyaksikan kebaikan dan syiar dakwah kaum muslimin, sedangkan yang haidh diminta untuk menjauhi tempat shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Namun ada 2 hal yang perlu diingat dalam keluarnya wanita ke mushalla Id:</p>
<p>Pertama: Hendaknya keluar dalam keadaan menutup aurat, dengan tidak berhias, tidak memakai wewangian, dan tidak campur baur dengan laki-laki, karena dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan bisa menjadi fitnah bagi kaum lelaki.</p>
<p>Kedua: Tidak boleh berjabat tangan dengan selain mahramnya, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ketika membaiat kaum wanita: “Sungguh aku tidak berjabat tangan dengan wanita (yang bukan mahram).” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad)</p>
<p>Juga sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam: “Benar-benar kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisi)</p>
<p>Dan hukum haramnya perbuatan ini ada di dalam kitab-kitab empat madzhab. (Lihat Ahkamul Idain hal. 82)</p>
<p>Hukum Memakai Mimbar Di Dalam Khutbah<br /> =========================<br /> Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah berkhutbah Id dengan memakai mimbar akan tetapi beliau berdiri di atas tanah. Adapun orang yang pertama kali berkhutbah Id dengan memakai mimbar adalah Marwan bin Al Hakam dan perbuatan itu telah diingkari oleh Abu Said Al-Khudri radliyallahu ‘anhu dan dinyatakan bahwa hal itu menyelisihi sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. (Lihat Fathul Bari hadits no. 956 dan Zadul Ma’ad 1/ 429 dan 431)</p>
<p>Kaum muslimin, siapa pun dari kita pasti berharap agar keluar dari bulan suci Ramadhan dalam keadaan suci dari dosa dan penuh dengan karunia serta rahmat ilahi. Maka dari itu marillah kita berupaya untuk menuju kehidupan yang lebih mulia dengan meninggalkan beberapa kemungkaran yang terjadi pada hari raya Idul Fitri atau sebelumnya. Di antaranya adalah:</p>
<p>1.         Menyerupai orang-orang kafir dalam hal berpakaian dan berpesta pora.</p>
<p>2.         Menggelar pesta judi, dan bertamasya ke tempat-tempat hiburan dan maksiat.</p>
<p>3.         Pengkhususan ziarah kubur di hari Id atau sebelumnya.</p>
<p>4.         Pengkhususan malam Id untuk melakukan ritual ibadah tertentu.</p>
<p>5.         Berpuasa di hari Id.</p>
<p>6.         Pelarangan wanita untuk menghadiri shalat Id.</p>
<p>7.         Ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita yang bukan mahram).</p>
<p>8.         Tidak peduli terhadap fakir miskin yang kekurangan di hari itu.</p>
<p>9.         Menghiasi masjid dengan lampu-lampu hias, bunga dan sejenisnya. Karena yang demikian itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabatnya radliyallahu ‘anhum.</p>
<p>http://www.assalafy.org/mahad/?p=538#more-538</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/707/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=707&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/08/24/ber-idul-fitri-di-atas-sunnah-nabi-shalallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/08/id-fithri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">id fithri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jumlah Rakaat Shalat Tarawih</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/08/07/jumlah-rakaat-dalam-shalat-tarawih/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/08/07/jumlah-rakaat-dalam-shalat-tarawih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 14:33:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=698</guid>
		<description><![CDATA[Untuk jumlah rakaat dalam shalat tarawih adalah 11 rakaat berdasarkan: 1. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, beliau bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang sifat shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada bulan Ramadhan, beliau menjawab: مَا كَانَ يَزِيْدُ فِيْ رَمَضَانَ وَلاَ فِيْ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً … “Tidaklah (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) melebihkan (jumlah &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=698&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/08/tarawih2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-703" title="tarawih" src="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/08/tarawih2.jpg?w=600" alt=""   /></a>Untuk jumlah rakaat dalam <em>shalat tarawih adalah <strong>11 rakaat</strong></em> berdasarkan:</p>
<p>1. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, beliau bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang sifat shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada bulan Ramadhan, beliau menjawab:</p>
<p><strong>مَا كَانَ يَزِيْدُ فِيْ رَمَضَانَ وَلاَ فِيْ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً …</strong></p>
<p>“<em>Tidaklah (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) melebihkan (jumlah rakaat) pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada selain bulan Ramadhan dari 11 rakaat</em>.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari)</p>
<p>‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadits di atas mengisahkan tentang jumlah rakaat shalat malam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah beliau saksikan sendiri yaitu 11 rakaat, baik di bulan Ramadhan atau bulan lainnya. “<em>Beliaulah yang paling mengetahui tentang keadaan Nabi shallallahu alaihi wasallam di malam hari dari lainnya</em>.” (Fathul Bari, 4/299)</p>
<p>Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “(<em>Jumlah) rakaat (shalat tarawih) adalah 11 rakaat, dan kami memilih tidak lebih dari (11 rakaat) karena mengikuti Rasulullah Shallallahu &#8216;alayhi wasallam, maka sesungguhnya beliau shallallahu alaihi wasallam tidak melebihi 11 rakaat sampai beliau shallallahu alaihi wasallam wafat</em>.” (Qiyamu Ramadhan, hal. 22)</p>
<p>2. Dari Saaib bin Yazid beliau berkata:</p>
<p><strong>أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيْمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُوْمَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً</strong></p>
<p>“<em>’Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan pada Ubai bin Ka’b dan Tamim Ad-Dari untuk memimpin shalat berjamaah sebanyak 11 rakaat</em>.” (HR. Al-Imam Malik, lihat Al-Muwaththa Ma’a Syarh Az-Zarqani, 1/361 no. 249)<span id="more-698"></span></p>
<p>Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata dalam Al-Irwa (2/192) tentang hadits ini: <em>“(Hadits) ini isnadnya sangat shahih</em>.” Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “<em>Dan (hadits) ini merupakan nash yang jelas dan perintah dari ‘Umar , dan (perintah itu) sesuai dengannya radhiyallahu ‘anhu karena beliau termasuk manusia yang paling bersemangat dalam berpegang teguh dengan As Sunnah, apabila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak melebihkan dari 11 rakaat maka sesungguhnya kami berkeyakinan bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu akan berpegang teguh dengan jumlah ini (yaitu 11 rakaat)</em>.” (Asy-Syarhul Mumti’)</p>
<p><em>Adapun pendapat yang menyatakan bahwa <strong>shalat tarawih itu jumlahnya 23 rakaat adalah pendapat yang lemah</strong></em> karena dasar yang digunakan oleh pemegang pendapat ini hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits-hadits tersebut:</p>
<p>1. Dari Yazid bin Ruman beliau berkata:</p>
<p><strong>كَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ فِيْ زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِيْ رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً</strong></p>
<p>“<em>Manusia menegakkan (shalat tarawih) di bulan Ramadhan pada masa ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu 23 rakaat</em>.” (HR. Al-Imam Malik, lihat Al-Muwaththa Ma’a Syarh Az-Zarqaani, 1/362 no. 250)</p>
<p>Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata: “<em>Yazid bin Ruman tidak menemui masa ‘Umar radiyallahu ‘anhu</em>”. (Nukilan dari kitab Nashbur Rayah, 2/154) (maka sanadnya munqothi/terputus, red).</p>
<p>Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah men-dha’if-kan hadits ini sebagaimana dalam Al-Irwa (2/192 no. 446).</p>
<p>2. Dari Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman dari Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu :</p>
<p><strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّى فِيْ رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكَعَةَ وَالْوِتْرَ</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir</em>.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Awsath, 5/324 no. 5440 dan 1/243 no. 798, dan dalam Al-Mu’jamul Kabir, 11/311 no. 12102)</p>
<p>Al-Imam Ath-Thabrani rahimahullah berkata: “<em>Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Hakam kecuali Abu Syaibah dan tidaklah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas kecuali dengan sanad ini saja</em>.” (Al-Mu’jamul Ausath, 1/244)</p>
<p>Dalam kitab Nashbur Rayah (2/153) dijelaskan: “<em>Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman adalah perawi yang lemah menurut kesepakatan, dan dia telah menyelisihi hadits yang shahih riwayat Abu Salamah, sesungguhnya beliau bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : “Bagaimana shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di bulan Ramadhan? (yaitu dalil pertama dari pendapat yang pertama)</em>.” Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu). (Adh-Dha’ifah, 2/35 no. 560 dan Al-Irwa, 2/191 no. 445)</p>
<p>Sebagai penutup kami mengingatkan tentang kesalahan yang terjadi pada pelaksanaan shalat tarawih yaitu dengan membaca dzikir-dzikir atau doa-doa tertentu yang dibaca secara berjamaah pada tiap-tiap dua rakaat setelah salam. Amalan ini adalah amalan yang bid’ah (tidak diajarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wassallam). Wallahu a’lam</p>
<p>Dinukil dan dikutip dari : <a href="http://www.asysyariah.com/syariah/kajian-khusus/645-shalat-tarawih-kajian-khusus-edisi-3.html">http://www.asysyariah.com/syariah/kajian-khusus/645-shalat-tarawih-kajian-khusus-edisi-3.html</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/698/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=698&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/08/07/jumlah-rakaat-dalam-shalat-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/08/tarawih2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tarawih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zakat Fithrah Pensuci Jiwa</title>
		<link>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/08/06/zakat-fithrah-pensuci-jiwan/</link>
		<comments>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/08/06/zakat-fithrah-pensuci-jiwan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Aug 2011 07:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pengelola</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah dan Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://najiyah1400h.wordpress.com/?p=689</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc. Zakat Fitri, atau yang lazim disebut zakat fitrah, sudah jamak diketahui sebagai penutup rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Bisa jadi sudah banyak pembahasan seputar hal ini yang tersuguh untuk kaum muslimin. Namun tidak ada salahnya jika diulas kembali dengan dilengkapi dalil-dalilnya. Telah menjadi kewajiban atas kaum muslimin untuk mengetahui hukum-hukum seputar &#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=689&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/08/zakat2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-694" title="zakat" src="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/08/zakat2.jpg?w=600" alt=""   /></a>Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.<br />
</em><br />
Zakat Fitri, atau yang lazim disebut zakat fitrah, sudah jamak diketahui sebagai penutup rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Bisa jadi sudah banyak pembahasan seputar hal ini yang tersuguh untuk kaum muslimin. Namun tidak ada salahnya jika diulas kembali dengan dilengkapi dalil-dalilnya.</p>
<p>Telah menjadi kewajiban atas kaum muslimin untuk mengetahui hukum-hukum seputar zakat fitrah. Ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mensyariatkan atas mereka untuk menunaikannya usai melakukan kewajiban puasa Ramadhan. Tanpa mempelajari hukum-hukumnya, maka pelaksanaan syariat ini tidak akan sempurna. Sebaliknya, dengan mempelajarinya maka akan sempurna realisasi dari syariat tersebut.</p>
<p>Hikmah Zakat Fitrah<br />
Dari Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhuma, ia berkata:</p>
<p>فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ</p>
<p>“Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” (Hasan, HR. Abu Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)<span id="more-689"></span></p>
<p>Mengapa disebut Zakat Fitrah?<br />
Sebutan yang populer di kalangan masyarakat kita adalah zakat fitrah. Mengapa demikian? Karena maksud dari zakat ini adalah zakat jiwa, diambil dari kata fitrah, yaitu asal-usul penciptaan jiwa (manusia) sehingga wajib atas setiap jiwa (Fathul Bari, 3/367). Semakna dengan itu Ahmad bin Muhammad Al-Fayyumi menjelaskan bahwa ucapan para ulama “wajib fitrah” maksudnya wajib zakat fitrah. (Al-Mishbahul Munir: 476)<br />
Namun yang lebih populer di kalangan para ulama –wallahu a’lam– disebut زَكَاةُ الْفِطْرِ zakat fithri atau صَدَقَةُ الْفِطْرِ shadaqah fithri. Kata Fithri di sini kembali kepada makna berbuka dari puasa Ramadhan, karena kewajiban tersebut ada setelah selesai menunaikan puasa bulan Ramadhan. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar Al-’Asqalani menerangkan bahwa sebutan yang kedua ini lebih jelas jika merujuk pada sebab musababnya dan pada sebagian penyebutannya dalam sebagian riwayat. (Lihat Fathul Bari, 3/367)</p>
<p>Hukum Zakat Fitrah<br />
Pendapat yang terkuat, zakat fitrah hukumnya wajib. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, di antara mereka adalah Abul Aliyah, Atha’ dan Ibnu Sirin, sebagaimana disebutkan Al-Imam Al-Bukhari. Bahkan Ibnul Mundzir telah menukil ijma’ atas wajibnya fitrah, walaupun tidak benar jika dikatakan ijma’. Namun, ini cukup menunjukkan bahwa mayoritas para ulama berpandangan wajibnya zakat fitrah.<br />
Dasar mereka adalah hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<p>عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ</p>
<p>Dari Ibnu Umar radhiallahu &#8216;anhuma ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menfardhukan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, wanita, kecil dan besar dari kaum muslimin. Dan Nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (Id).” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat Bab Fardhu Shadaqatul Fithri 3/367, no. 1503 dan ini lafadznya. Diriwayatkan juga oleh Muslim)<br />
Dalam lafadz Al-Bukhari yang lain:</p>
<p>أمر النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ</p>
<p>“Nabi memerintahkan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (HR. Al-Bukhari no. 1507)<br />
Dari dua lafadz hadits tersebut nampak jelas bagi kita bahwa Nabi menfardhukan dan memerintahkan, sehingga hukum zakat fitrah adalah wajib.<br />
Dalam hal ini, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Adapula yang berpendapat, hukumnya adalah hanya sebuah amal kebaikan, yang dahulu diwajibkan namun kemudian kewajiban itu dihapus. Pendapat ini lemah karena hadits yang mereka pakai sebagai dasar lemah menurut Ibnu Hajar. Sebabnya, dalam sanadnya ada rawi yang tidak dikenal. Demikian pula pendapat yang sebelumnya juga lemah. (Lihat At-Tamhid, 14/321; Fathul Bari, 3/368, dan Rahmatul Ummah fikhtilafil A`immah hal. 82)</p>
<p>Siapa yang Wajib Berzakat Fitrah?<br />
Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menerangkan dalam hadits sebelumnya bahwa kewajiban tersebut dikenakan atas semua orang, besar ataupun kecil, laki-laki ataupun perempuan, dan orang merdeka maupun budak hamba sahaya. Akan tetapi untuk anak kecil diwakili oleh walinya dalam mengeluarkan zakat. Ibnu Hajar mengatakan: “Yang nampak dari hadits itu bahwa kewajiban zakat dikenakan atas anak kecil, namun perintah tersebut tertuju kepada walinya. Dengan demikian, kewajiban tersebut ditunaikan dari harta anak kecil tersebut. Jika tidak punya, maka menjadi kewajiban yang memberinya nafkah, ini merupakan pendapat jumhur ulama.” (Al-Fath, 3/369; lihat At-Tamhid, 14/326-328, 335-336)<br />
Nafi’ mengatakan:</p>
<p>فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُعْطِي عَنِ الصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ حَتَّى إِنْ كَانَ لِيُعْطِي عَنْ بَنِيَّ</p>
<p>“Dahulu Ibnu ‘Umar menunaikan zakat anak kecil dan dewasa, sehingga dia dulu benar-benar menunaikan zakat anakku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab 77, no. 1511, Al-Fath, 3/375)<br />
Demikian pula budak hamba sahaya diwakili oleh tuannya. (Al-Fath, 3/369)</p>
<p>Apakah selain Muslim terkena Kewajiban Zakat?<br />
Sebagai contoh seorang anak yang kafir, apakah ayahnya (yang muslim) berkewajiban mengeluarkan zakatnya? Jawabnya: tidak. Karena Nabi memberikan catatan di akhir hadits bahwa kewajiban itu berlaku bagi kalangan muslimin (dari kalangan muslimin). Walaupun dalam hal ini ada pula yang berpendapat tetap dikeluarkan zakatnya. Namun pendapat tersebut tidak kuat, karena tidak sesuai dengan dzahir hadits Nabi.</p>
<p>Apakah Janin Wajib Dizakati?<br />
Jawabnya: tidak. Karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat tersebut kepada (anak kecil), sedangkan janin tidak disebut (anak kecil) baik dari sisi bahasa maupun adat. Bahkan Ibnul Mundzir menukilkan ijma’ tentang tidak diwajibkannya zakat fitrah atas janin. Walaupun sebetulnya ada juga yang berpendapat wajibnya atas janin, yaitu sebagian riwayat dari Al-Imam Ahmad dan pendapat Ibnu Hazm dengan catatan –menurutnya– janin sudah berumur 120 hari. Pendapat lain dari Al-Imam Ahmad adalah sunnah. Namun dua pendapat terakhir ini lemah, karena tidak sesuai dengan hadits di atas.</p>
<p>Wajibkah bagi Orang yang Tidak Mampu?<br />
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa: “Bila kewajiban itu melekat ketika ia mampu melaksanakannya kemudian setelah itu ia tidak mampu, maka kewajiban tersebut tidak gugur darinya. Dan tidak menjadi kewajibannya (yakni gugur) jika ia tidak mampu semenjak kewajiban itu mengenainya.” (Bada`i’ul Fawa`id, 4/33)<br />
Adapun kriteria tidak mampu dalam hal ini, maka Asy-Syaukani menjelaskan: “Barangsiapa yang tidak mendapatkan sisa dari makanan pokoknya untuk malam hari raya dan siangnya, maka tidak berkewajiban membayar fitrah. Apabila ia memiliki sisa dari makanan pokok hari itu, ia harus mengeluarkannya bila sisa itu mencapai ukurannya (zakat fitrah).” (Ad-Darari, 1/365, Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/553, lihat pula Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 9/369)</p>
<p>Dalam Bentuk Apa Zakat Fitrah dikeluarkan?<br />
Hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang lalu. Dan lebih jelas lagi dengan riwayat berikut:</p>
<p>عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نُعْطِيْهَا فِي زَمَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيْبٍ &#8230;</p>
<p>“Dari Abu Sa’id radhiallahu &#8216;anhu, ia berkata: ‘Kami memberikan zakat fitrah di zaman Nabi sebanyak 1 sha’ dari makanan, 1 sha’ kurma, 1 sha’ gandum, ataupun 1 sha’ kismis (anggur kering)’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat no. 1508 dan 1506, dengan Bab Zakat Fitrah 1 sha’ dengan makanan. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 2280)<br />
Kata طَعَامٍ (makanan) maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri baik berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya. Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Sa’id yang lain:</p>
<p>قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ وَقَالَ أَبُو سَعِيْدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيْرُ وَالزَّبِيْبُ وَاْلأَقِطُ وَالتَّمْرُ</p>
<p>“Ia mengatakan: ‘Kami mengeluarkannya (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada hari Idul Fitri’. Abu Sa’id mengatakan lagi: ‘Dan makanan kami saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, dan kurma’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat Bab Shadaqah Qablal Id, Al-Fath, 3/375 no. 1510)<br />
Di sisi lain, zakat fitrah bertujuan untuk menyenangkan para fakir dan miskin. Sehingga seandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya maka tujuan itu menjadi kurang tepat sasaran.<br />
Inilah pendapat yang kuat yang dipilih oleh mayoritas para ulama. Di antaranya Malik (At-Tamhid, 4/138), Asy-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah (Majmu’ Fatawa, 25/69), Ibnul Mundzir (Al-Fath, 3/373), Ibnul Qayyim (I’lamul Muwaqqi’in, 2/21, 3/23, Taqrib li Fiqhi Ibnil Qayyim hal. 234), Ibnu Baz dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (9/365, Fatawa Ramadhan, 2/914)<br />
Juga ada pendapat lain yaitu zakat fitrah diwujudkan hanya dalam bentuk makanan yang disebutkan dalam hadits Nabi. Ini adalah salah satu pendapat Al-Imam Ahmad. Namun pendapat ini lemah. (Majmu’ Fatawa, 25/68)</p>
<p>Bolehkah Mengeluarkannya dalam Bentuk Uang?<br />
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini.<br />
Pendapat pertama: Tidak boleh mengeluarkan dalam bentuk uang. Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Dawud. Alasannya, syariat telah menyebutkan apa yang mesti dikeluarkan, sehingga tidak boleh menyelisihinya. Zakat sendiri juga tidak lepas dari nilai ibadah, maka yang seperti ini bentuknya harus mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Selain itu, jika dengan uang maka akan membuka peluang untuk menentukan sendiri harganya. Sehingga menjadi lebih selamat jika menyelaraskan dengan apa yang disebut dalam hadits.<br />
An-Nawawi mengatakan: “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i sepakat bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat dengan nilainya (uang).” (Al-Majmu’, 5/401)<br />
Abu Dawud mengatakan: “Aku mendengar Al-Imam Ahmad ditanya: ‘Bolehkah saya memberi uang dirham -yakni dalam zakat fitrah-?’ Beliau menjawab: ‘Saya khawatir tidak sah, menyelisihi Sunnah Rasulullah’.”<br />
Ibnu Qudamah mengatakan: “Yang tampak dari madzhab Ahmad bahwa tidak boleh mengeluarkan uang pada zakat.” (Al-Mughni, 4/295)<br />
Pendapat ini pula yang dipilih oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan (lihat Fatawa Ramadhan, 2/918-928)<br />
Pendapat kedua: Boleh mengeluarkannya dalam bentuk uang yang senilai dengan apa yang wajib dia keluarkan dari zakatnya, dan tidak ada bedanya antara keduanya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah. (Al-Mughni, 4/295, Al-Majmu’, 5/402, Bada`i’ush-Shana`i’, 2/205, Tamamul Minnah, hal. 379)<br />
Pendapat pertama itulah yang kuat.<br />
Atas dasar itu bila seorang muzakki (yang mengeluarkan zakat) memberi uang pada amil, maka amil diperbolehkan menerimanya jika posisinya sebagai wakil dari muzakki. Selanjutnya, amil tersebut membelikan beras –misalnya– untuk muzakki dan menyalurkannya kepada fuqara dalam bentuk beras, bukan uang.<br />
Namun sebagian ulama membolehkan mengganti harta zakat dalam bentuk uang dalam kondisi tertentu, tidak secara mutlak. Yaitu ketika yang demikian itu lebih bermaslahat bagi orang-orang fakir dan lebih mempermudah bagi orang kaya.<br />
Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyyah. Beliau rahimahullahu mengatakan: “Boleh mengeluarkan uang dalam zakat bila ada kebutuhan dan maslahat. Contohnya, seseorang menjual hasil kebun atau tanamannya. Jika ia mengeluarkan zakat 1/10 (sepersepuluh) dari uang dirhamnya maka sah. Ia tidak perlu membeli korma atau gandum terlebih dulu. Al-Imam Ahmad telah menyebutkan kebolehannya.” (Dinukil dari Tamamul Minnah, hal. 380)<br />
Beliau juga mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (25/82-83): “Yang kuat dalam masalah ini bahwa mengeluarkan uang tanpa kebutuhan dan tanpa maslahat yang kuat maka tidak boleh …. Karena jika diperbolehkan mengeluarkan uang secara mutlak, maka bisa jadi si pemilik akan mencari jenis-jenis yang jelek. Bisa jadi pula dalam penentuan harga terjadi sesuatu yang merugikan… Adapun mengeluarkan uang karena kebutuhan dan maslahat atau untuk keadilan maka tidak mengapa….”<br />
Pendapat ini dipilih oleh Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana disebutkan dalam kitab Tamamul Minnah (hal. 379-380)<br />
Yang perlu diperhatikan, ketika memilih pendapat ini, harus sangat diperhatikan sisi maslahat yang disebutkan tadi dan tidak boleh sembarangan dalam menentukan, sehingga berakibat menggampangkan masalah ini.</p>
<p>Ukuran yang Dikeluarkan<br />
Dari hadits-hadits yang lalu jelas sekali bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menentukan ukuran zakat fitrah adalah 1 sha’. Tapi, berapa 1 sha’ itu?<br />
Satu sha’ sama dengan 4 mud. Sedangkan 1 mud sama dengan 1 cakupan dua telapak tangan yang berukuran sedang.<br />
Berapa bila diukur dengan kilogram (kg)? Tentu yang demikian ini tidak bisa tepat dan hanya bisa diukur dengan perkiraan. Oleh karenanya para ulama sekarangpun berbeda pendapat ketika mengukurnya dengan kilogram.<br />
Dewan Fatwa Saudi Arabia atau Al-Lajnah Ad-Da`imah yang diketuai Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, wakilnya Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi dan anggotanya Abdullah bin Ghudayyan memperkirakan 3 kg. (Fatawa Al-Lajnah, 9/371)<br />
Adapun Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berpendapat sekitar 2,040 kg. (Fatawa Arkanil Islam, hal. 429)</p>
<p>Tentang Al-Bur atau Al-Hinthah<br />
Ada perbedaan pendapat tentang ukuran yang dikeluarkan dari jenis hinthah (salah satu jenis gandum). Sebagian shahabat berpendapat tetap 1 sha’, sementara yang lain berpendapat ½ sha’.<br />
Nampaknya pendapat kedua itu yang lebih kuat berdasarkan riwayat:</p>
<p>عَنْ هِشَامِ بنِ عُرْوَةَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ أَسْمَاءَ بنِتَ أَبِى بَكْرٍ أَخْبَرَتْهُ: أَنَّهَا كَانَتْ تُخْرِجُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَهْلِهَا الْحُرِّ مِنْهُمْ وَالْمَمْلُوْكِ مُدَّيْنِ مِنْ حِنْطَةٍ أَوْ صَاعاً مِنْ تَمْرٍ بِالْمُدِّ أوْ بِالصَّاعِ الَّذِي يَـتَبَايَعوْنَ بِهِ</p>
<p>“Dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya bahwa Asma’ binti Abu Bakar dahulu di zaman Nabi dia mengeluarkan (zakat) untuk keluarganya yang merdeka atau yang sahaya dua mud hinthah atau satu sha’ kurma dengan ukuran mud atau sha’ yang mereka pakai untuk jual beli.” (Shahih, HR. Ath-Thahawi dalam Ma’ani Al-Atsar, 2871, Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: “Sanadnya shahih, sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim.” Lihat Tamamul Minnah hal. 387)<br />
Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan di masa sekarang Al-Albani.</p>
<p>Waktu Mengeluarkannya<br />
Menurut sebagian ulama bahwa jatuhnya kewajiban fitrah itu dengan selesainya bulan Ramadhan. Namun Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menerangkan bahwa waktu pengeluaran zakat fitrah itu sebelum shalat sebagaimana dalam hadits yang lalu.</p>
<p>وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ</p>
<p>“Dan Nabi memerintahkan agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar menuju shalat.”<br />
Dengan demikian, zakat tersebut harus tersalurkan kepada yang berhak sebelum shalat. Sehingga maksud dari zakat fitrah tersebut terwujud, yaitu untuk mencukupi mereka di hari itu.<br />
Namun demikian, syariat memberikan kelonggaran kepada kita dalam penunaian zakat, di mana pelaksanaannya kepada amil zakat dapat dimajukan 2 atau 3 hari sebelum Id berdasarkan riwayat berikut ini:</p>
<p>كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُعْطِيْهَا الَّذِيْنَ يَقْبَلُوْنَهَا وَكَانُوا يُعْطُوْنَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ</p>
<p>“Dulu Abdullah bin Umar memberikan zakat fitrah kepada yang menerimanya1. Dan dahulu mereka menunaikannya 1 atau 2 hari sebelum hari Id.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab 77 no. 1511 Al-Fath, 3/375)<br />
Dalam riwayat Malik dari Nafi’:</p>
<p>أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةٍ</p>
<p>“Bahwasanya Abdullah bin Umar menyerahkan zakat fitrahnya kepada petugas yang zakat dikumpulkan kepadanya, 2 atau 3 hari sebelum Idul Fitri.” (Al-Muwaththa`, Kitabuz Zakat Bab Waqtu Irsal Zakatil Fithri, 1/285. Lihat pula Al-Irwa` no. 846)<br />
Sehingga tidak boleh mendahulukan lebih cepat daripada itu, walaupun ada juga yang berpendapat itu boleh. Pendapat pertama itulah yang benar, karena demikianlah praktek para shahabat.</p>
<p>Bolehkan Mengeluarkan Zakat Fitrah Setelah Shalat Id?<br />
Hal ini telah dijelaskan oleh hadits Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berikut ini:</p>
<p>عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhuma ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Id) maka itu zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu hanya sekedar sedekah dari sedekah-sedekah yang ada.” (Hasan, HR. Abu Dawud Kitabuz Zakat Bab Zakatul Fithr, 17 no. 1609, Ibnu Majah, 2/395 Kitabuz Zakat Bab Shadaqah Fithri, 21 no. 1827, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)<br />
Ibnul Qayyim mengatakan: “Konsekuensi dari dua2 hadits tersebut adalah tidak boleh menunda penunaian zakat sampai setelah Shalat Id; dan bahwa kewajiban zakat itu gugur dengan selesainya shalat. Inilah pendapat yang benar karena tiada yang menentang dua hadits ini dan tidak ada pula yang menghapus serta tidak ada ijma’ yang menghalangi untuk berpendapat dengan kandungan 2 hadits itu. Dan dahulu guru kami (Ibnu Taimiyyah) menguatkan pendapat ini serta membelanya.” (Zadul Ma’ad, 2/21)<br />
Atas dasar itu, maka jangan sampai zakat fitrah diserahkan ke tangan fakir setelah Shalat Id, kecuali bila si fakir mewakilkan kepada yang lain untuk menerimanya.</p>
<p>Sasaran Zakat Fitrah<br />
Yang kami maksud di sini adalah mashraf atau sasaran penyaluran zakat.<br />
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini. Sebagian ulama mengatakan sasaran penyalurannya adalah orang fakir miskin secara khusus.<br />
Sebagian lagi mengatakan, sasaran penyalurannya adalah sebagaimana zakat yang lain, yaitu 8 golongan sebagaimana tertera dalam surat At-Taubah 60. Ini merupakan pendapat Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh Ibnu Qudamah (Al-Mughni, 4/314).<br />
Dari dua pendapat yang ada, nampaknya yang kuat adalah pendapat yang pertama. Dengan dasar hadits Nabi yang lalu:</p>
<p>عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ</p>
<p>Dari Ibnu Abbas ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.”<br />
Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syaukani dalam bukunya As-Sailul Jarrar3 dan di zaman ini Asy Syaikh Al-Albani, dan difatwakan Asy-Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, dan lain-lain.<br />
Ibnul Qayyim mengatakan: “Di antara petunjuk beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, zakat ini dikhususkan bagi orang-orang miskin dan tidak membagikannya kepada 8 golongan secomot-secomot. Beliau tidak pula memerintahkan untuk itu serta tidak seorangpun dari kalangan shahabat yang melakukannya. Demikian pula orang-orang yang setelah mereka.” (Zadul Ma’ad, 2/21, lihat pula Majmu’ Fatawa, 25/75, Tamamul Minnah, hal. 387, As-Sailul Jarrar, 2/86, Fatawa Ramadhan, 2/936)<br />
Atas dasar itu, tidak diperkenankan menyalurkan zakat fitrah untuk pembangunan masjid, sekolah, atau sejenisnya. Demikian difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah (9/369).</p>
<p>Definisi Fakir<br />
Para ulama banyak membicarakan hal ini. Terlebih, kata fakir ini sering bersanding dengan kata miskin, yang berarti masing-masing punya pengertian tersendiri. Pembahasan masalah ini cukup panjang dan membutuhkan pembahasan khusus. Namun di sini kami akan sebutkan secara ringkas pendapat yang nampaknya lebih kuat:<br />
Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya (8/168) menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam hal perbedaan antara fakir dan miskin sampai 9 pendapat.<br />
Di antaranya, bahwa fakir lebih membutuhkan daripada miskin. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i dan jumhur sebagaimana dalam Fathul Bari. (Dinukil dari Imdadul Qari, 1/236-237)<br />
Di antara alasannya adalah karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala lebih dahulu menyebut fakir daripada miskin dalam surat At-Taubah: 60.</p>
<p>إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا</p>
<p>“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat…”<br />
Tentu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebutkan dari yang terpenting. Juga dalam surat Al-Kahfi: 79, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>أَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا</p>
<p>“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera…”<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebut mereka miskin padahal mereka memiliki kapal.<br />
Jadi baik fakir maupun miskin sama-sama tidak punya kecukupan, walaupun fakir lebih kekurangan dari miskin.<br />
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam Tafsir-nya (341): “Fakir adalah orang yang tidak punya apa-apa atau punya sedikit kecukupan tapi kurang dari setengahnya. Sedangkan miskin adalah yang mendapatkan setengah kecukupan atau lebih tapi tidak memadai.”</p>
<p>Berapakah yang Diberikan kepada Mereka?<br />
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan (hal. 341): “Maka mereka diberi seukuran yang membuat hilangnya kefakiran dan kemiskinan mereka.”<br />
Maka diupayakan jangan sampai setiap orang miskin diberi kurang dari ukuran zakat fitrah itu sendiri.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Pendapat yang paling lemah adalah pendapat yang mengatakan wajib atas setiap muslim untuk membayarkan zakat fitrahnya kepada 12, 18, 24, 32, atau 28 orang, atau semacam itu. Karena ini menyelisihi apa yang dilakukan kaum muslimin dahulu di zaman Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, para khalifahnya, serta seluruh shahabatnya. Tidak seorang muslimpun melakukan yang demikian di masa mereka. Bahkan dahulu setiap muslim membayar fitrahnya sendiri dan fitrah keluarganya kepada satu orang muslim.<br />
Seandainya mereka melihat ada yang membagi satu sha’ untuk sekian belas jiwa di mana setiap orang diberi satu genggam, tentu mereka mengingkari itu dengan sekeras-kerasnya. Karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menentukan kadar yang diperintahkan yaitu satu sha’ kurma, gandum, atau dari bur ½ atau 1 sha’, sesuai kadar yang cukup untuk satu orang miskin. Dan beliau jadikan ini sebagai makanan mereka di hari raya, yang mereka tercukupi dengan itu. Jika satu orang hanya memperoleh satu genggam, maka ia tidak mendapatkan manfaat dan tidak selaras dengan tujuannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/73-74)</p>
<p>Bagaimana Hukum Mendirikan Semacam Badan Amil Zakat?<br />
Telah diajukan sebuah pertanyaan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah tentang sebuah organisasi yang bernama Jum’iyyatul Bir di Jeddah, Saudi Arabia yang mengelola anak yatim dan bantuan kepada keluarga yang membutuhkan, menerima zakat dan menyalurkannya kepada orang-orang yang membutuhkan.<br />
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab: “Organisasi tersebut wajib untuk menyalurkan zakat fitrah kepada orang-orang yang berhak sebelum diselenggarakan Shalat Id, tidak boleh menundanya dari waktu itu. Karena Nabi memerintahkan untuk disampaikan kepada orang-orang fakir sebelum Shalat Id. Organisasi itu kedudukannya sebagai wakil dari muzakki (pemberi zakat), dan organisasi tersebut tidak diperkenankan untuk menerima zakat fitrah kecuali seukuran yang ia mampu untuk menyalurkannya kepada orang-orang fakir sebelum Shalat Id. Dan tidak boleh pula membayar zakat fitrah dalam bentuk uang karena dalil-dalil syar’i menunjukkan wajibnya mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan, juga tidak boleh berpaling dari dalil syar’i kepada pendapat seseorang manusia.<br />
Apabila muzakki membayarkan kepada organisasi itu dalam bentuk uang untuk dibelikan makanan untuk orang-orang fakir, maka itu wajib dilaksanakan sebelum Shalat Id dan tidak boleh bagi organisasi itu untuk mengeluarkannya dalam bentuk uang.” (Fatawa Al-Lajnah, 9/379, ditandatangani Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, dan Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan. Lihat pula 9/389)<br />
Akan tetapi pada asalnya zakat fitrah langsung diberikan oleh muzakki kepada yang berhak. (Fatawa Lajnah, 9/389)<br />
Bila ia memberikannya kepada badan amil zakat maka harus diperhatikan minimalnya dua hal:<br />
1. Mereka benar-benar orang yang mengetahui hukum sehingga tahu seluk-beluk hukum zakat dan yang berhak menerimanya.<br />
2. Mereka adalah orang yang amanah, benar-benar menyampaikannya kepada yang berhak, sesuai dengan aturan syar’i.<br />
Hal ini kami tegaskan karena di masa ini banyak orang yang tidak tahu hukum, lebih-lebih tidak sedikit yang tidak amanah. Ada yang mengambilnya tanpa hak dan ada yang menyalurkannya tidak tepat sasaran. Justru zakat itu dikembangkan atau untuk kesejahteraan organisasi/partainya. Atau terkadang dia menundanya, yang berarti menunda pemberian kepada orang yang sangat membutuhkan, walaupun terkadang melegitimasi perbuatan mereka dengan alasan-alasan ‘syar’i’ yang dibuat-buat.</p>
<p>Bolehkah Zakat (Secara Umum) Dikembangkan oleh Badan Amil Zakat?<br />
Pertanyaan tentang ini telah diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah, jawabnya:<br />
Tidak boleh bagi wakil dari organisasi tersebut untuk mengembangkan harta zakat. Yang wajib dilakukan adalah menyalurkannya ke tempat-tempat yang syar’i yang telah disebut dalam nash (Al-Qur’an atau Hadits, -pent.) setelah mengecek (tempat) penyalurannya kepada orang-orang yang berhak. Karena tujuan zakat adalah memenuhi kebutuhan orang-orang fakir dan melunasi hutang orang-orang yang berhutang. Sementara pengembangan harta zakat bisa jadi justru menyebabkan hilangnya maslahat ini, atau menundanya dalam waktu yang lama dari orang-orang yang berhak (sangat membutuhkannya segera, ed.) (Fatawa Al-Lajnah, 9/454 ditandatangani oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud)</p>
<p>Tempat Ditunaikannya Zakat Fitrah<br />
Sebuah pertanyaan ditujukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah:<br />
“Apakah saya boleh menunaikan zakat untuk keluarga saya di mana saya puasa Ramadhan di (Saudi Arabia) bagian timur sementara keluarga saya di (Saudi Arabia) bagian utara?”<br />
Jawab: Zakat fitrah itu dikeluarkan di tempat seseorang berada. Namun jika wakil atau walinya mengeluarkannya di daerah tempat yang bersangkutan tidak ada di sana, maka diperbolehkan. (Fatawa Al-Lajnah, 9/384, ditandatangani oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud. Lihat Fatawa Ramadhan, 2/943)<br />
Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<p>1 Yang dimaksud adalah amil zakat, bukan fakir miskin. Lihat Fathul Bari (3/376) dan Al-Irwa` (3/335).<br />
2 Sebelumnya beliau juga menyebutkan hadits lain yang semakna.<br />
3 Lain halnya dalam bukunya Ad-Darari, di situ beliau berpendapat seperti Asy-Syafi’i.</p>
<p>http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=372</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/najiyah1400h.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/najiyah1400h.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/najiyah1400h.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/najiyah1400h.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/najiyah1400h.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/najiyah1400h.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/najiyah1400h.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/najiyah1400h.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/najiyah1400h.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/najiyah1400h.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/najiyah1400h.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/najiyah1400h.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/najiyah1400h.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/najiyah1400h.wordpress.com/689/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=najiyah1400h.wordpress.com&amp;blog=2612002&amp;post=689&amp;subd=najiyah1400h&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://najiyah1400h.wordpress.com/2011/08/06/zakat-fithrah-pensuci-jiwan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pengelola</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://najiyah1400h.files.wordpress.com/2011/08/zakat2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">zakat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
