Larangan Berputus Asa dari Rahmat ALLAH
Ditulis oleh Pengelola di/pada 9 Juli, 2008
Oleh : Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
Pertanyaan : Ketika disebutkan nama seorang yang menyia-nyiakan dirinya dengan dosa, sebagian orang berkata, “Sesungguhnya si fulan jauh dari hidayah” atau “Dari Surga” atau “Dari ampunan ALLAH”. Apakah hukum hal tersebut ?
Jawaban :
Ini tidak boleh karena hal itu termasuk ta’alliy (bersumpah) atas ALLAH ‘Azza wa Jalla. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa ada seseorang yang menyia-nyiakan dirinya. Kemudian lewat di depannya seseorang dan berkata, “ Demi ALLAH, ALLAH tidak akan mengampuni si fulan! Maka ALLAH ‘azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa yang bersumpah atas-Ku bahwa Aku tidak mengampuni seseorang, maka Aku telah mengampuninya dan Aku gugurkan amalmu.”1
Tidak boleh bagi seseorang menganggap jauh akan datangnya rahmat ALLAH ‘azza wa jalla. Berapa banyak orang yang telah sampai pada kekafiran yang jauh kemudian ALLAH memberinya petunjuk sehingga ia menjadi bagian orang-orang yang berada di atas petunjuk ALLAH ‘azza wa jalla.
Karena itu wajib bagi orang yang telah berkata demikian bertaubat kepada ALLAH dengan menyesali perbuatannya dan bertekad untuk tidak kembali pada waktu yang akan datang.
–Allahu a’lam bish-shawab–
(Dinukil dari buku Beragam Ungkapan dan Pemahaman dalam Timbangan Syariah (Al-Manahil Lafzhiyah), Karya : Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerjemah : Abu Zaid Resa Gunarsa. Editor : Abu ‘Umar Al-Bankawy. Penerbit: Al-‘Ilmu, Jogjakarta. Hal.67. untuk http://najiyah1400h.wordpress.com )
===========================
Foot note :
1. Hadits Riwayat Muslim No.2621
