Ditulis oleh Pengelola di/pada 25 Juli, 2008
Oleh Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan
Soal : Bagaimana manhaj Ahlus Sunnah dalam mengkritik seseorang kemudian menyebutkan nama mereka, apakah menjelaskan kepada umat tentang kesalahan-kesalahan beberapa da’i termasuk fitnah yang harus dihindari ?
Jawab : Kesalahan adalah sesuatu yang harus dijelaskan dan dipisahkan dari kebenaran, adapun tentang individu tertentu, maka tidak ada manfaatnya mencela mereka, bahkan bisa jadi akan menimbulkan mudharat, kita tidak mengkritik orang-orangnya, namun kita hanya ingin menjelaskan kesalahan dan menerangkan kebenaran kepada umat agar mereka mengambil yang benar dan meninggalkan yang salah. Jadi bukan untuk mencela kepribadian seseorang atau balas dendam terhadapnya, bukan ini tujuannya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Aqidah dan Manhaj, Fatwa Ulama | Leave a Comment »
Ditulis oleh Pengelola di/pada 24 Juli, 2008
Oleh : Al- Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah
Di antara keanehan terbesar adalah :
- Kamu mengenal-Nya tapi tidak mencintai Dia.
- Dan kamu mendengar da’i yang menyeru kepada-Nya tapi terlambat dalam menyambut seruan-nya.
- Dan kamu mengetahui keberuntungan dalam bermuamalah dengan-Nya tapi memilih selain Dia.
- Dan kamu menyadari kadar kemarahan-Nya tapi bermain-main dengan-Nya.
- Dan kamu merasakan pedihnya kehampaan dalam bermaksiat kepada-Nya kemudian kamu tidak mencari ketenangan dengan mentaati Dia. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Akhlaq dan Adab, Nasehat | Leave a Comment »
Ditulis oleh Pengelola di/pada 21 Juli, 2008
Peringatan malam Isra Mi’raj Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam sepertinya sudah menjadi ritual keagamaan tahunan yang melekat dalam kultur masyarakat muslim Indonesia. Ironisnya, sebagian besar kaum muslimin Indonesia meyakini peringatan itu sebagai ibadah –wallahul musta’aan- padahal pada hakikatnya “Hukum asal suatu peribadahan itu terlarang (haram) kecuali setelah ada nash/dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang membolehkan/memerintahkannya”. Lalu, bagaimanakah timbangan syari’at terhadap ritual tahunan ini ?, temukan jawabannya dengan menyimak artikel berikut ..
- Kesempurnaan Agama Islam
- Perkara Baru dalam Sorotan Syariah
- Perayaan Isra’ Mi’raj Rasulullah dalam Sorotan Islam
–Allahu a’lam bish-shawab–
Ditulis dalam Aqidah dan Manhaj, Bid'ah-Bid'ah | Leave a Comment »
Ditulis oleh Pengelola di/pada 18 Juli, 2008
Penulis : Ustadz Ruwaifi, Lc
Telah menjadi sunnatullah kalau kebanyakan manusia merupakan para penentang kebenaran. Maka menjadi ironi, ketika kebenaran kemudian diukur dengan suara mayoritas.
Apa yang kamu bawa itu salah, karena menyelisihi mayoritas masyarakat di sini…, kalaulah ajaran itu benar pasti diikuti oleh banyak orang …, jangan membawa yang aneh-aneh, masyarakat di sini tidak biasa dengan seperti itu…., ngono yo ngono neng ojo ngono!
Demikianlah sekelumit tentang fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Hukum mayoritas ternyata memiliki peran penting didalam menilai kebenaran suatu ajaran dan dakwah. Jumlah mayoritas benar-benar menjadi tolok ukur bagi suatu kebenaran, dan suara terbanyak merupakan keputusan yang harus diikuti, walaupun bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam.
Padahal setiap insan beriman pasti yakin bahwa kebenaran itu adalah segala apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman (artinya): “Kebenaran itu berasal dari Rabb-mu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al Baqarah: 147) Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Aqidah dan Manhaj | Leave a Comment »
Ditulis oleh Pengelola di/pada 17 Juli, 2008
Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Ada yang mesti berubah ketika kita berumah tangga. Kita tak lagi bisa seenaknya menentukan sendiri apa yang hendak kita lakukan hari ini, esok, atau lusa karena hidup kita telah menjadi bagian dari hidup orang lain. Ada tanggung jawab yang mesti diemban dan ada hak yang mesti kita tunaikan.
Memutuskan untuk berumah tangga berarti siap untuk hidup berbagi dan siap menerima perubahan. Bagaimana tidak? Setelah sebelumnya seorang lelaki atau seorang wanita hidup sendiri tanpa pasangan, masing-masingnya bebas menentukan apa yang diinginkannya, mulai dari bangun tidur sampai hendak tidur kembali. Namun dengan berlalunya hari setelah terucapnya ijab qabul telah ada teman hidup yang mendampingi, yang berarti ada kebiasaan yang harus diubah, ada kewajiban yang harus diemban, dan ada yang harus dibagi. Tentunya keegoisan dan ke”aku”an selamanya tak dapat dikedepankan bila tak ingin mahligai yang dibangun goncang hingga akhirnya berujung kehancuran. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Muslimah, Nasehat, Pernikahan | Leave a Comment »
Ditulis oleh Pengelola di/pada 16 Juli, 2008
Oleh : Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Tanya:
Sebagian orang menuliskan ayat Al-Qur`an atau ucapan bismillahir rahmanir rahim di kartu undangan pernikahan atau yang lainnya. Padahal kartu ini bisa saja dibuang di tempat sampah setelah dibaca, terinjak, atau menjadi mainan anak kecil. Lalu apa nasihat anda dalam hal ini?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjawab:
“Si penulis telah melakukan perkara yang disyariatkan yakni menuliskan ucapan tasmiyah (bismillah). Bila ia menyebutkan ayat Al-Qur`an yang sesuai di kartu/surat undangan tersebut maka tidak menjadi masalah. Orang yang menerima kartu/surat undangan tersebut wajib untuk memuliakannya, karena di dalamnya ada ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Akhlaq dan Adab, Fatwa Ulama | Leave a Comment »
Ditulis oleh Pengelola di/pada 14 Juli, 2008
Penulis: Ummu Ishaq Zulfa Husein
Suami adalah nahkoda dalam bahtera rumah tangga, demikian syariat telah menetapkan. Dengan kesempurnaan hikmah-Nya, Allah ta`ala telah mengangkat suami sebagai qawwam (pemimpin).
الرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلىَ النِّسَاءِ
”Kaum pria adalah qawwam bagi kaum wanita….” (An-Nisa: 34)
Suamilah yang kelak akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ta`ala tentang keluarganya, sebagaimana diberitakan oleh Rasul yang mulia shallallahu alaihi wasallam:
اَلرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْهُمْ
“Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)
Dalam menjalankan fungsinya ini, seorang suami tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku dan kasar terhadap keluarganya. Bahkan sebaliknya, ia harus mengenakan perhiasan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang. Meski pada dasarnya ia adalah seorang yang berwatak keras dan kaku, namun ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih lagi dengan istri dan anak-anaknya, ia harus bisa bersikap lunak agar mereka tidak menjauh dan berpaling. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Akhlaq dan Adab, Nasehat, Pernikahan | Leave a Comment »
Ditulis oleh Pengelola di/pada 11 Juli, 2008
Khawarij Kelompok Sesat Pertama Dalam Islam
Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc.
Laa hukma illa lillah (tiada hukum kecuali untuk Allah Ta’ala ). Kata-kata ini haq adanya, karena merupakan kandungan ayat yang mulia. Namun jika kemudian ditafsirkan menyimpang dari pemahaman salafush shalih, kebatilanlah yang kemudian muncul. Bertamengkan kata-kata inilah, Khawarij, kelompok sempalan pertama dalam Islam, dengan mudahnya mengkafirkan bahkan menumpahkan darah kaum muslimin.
Siapakah Khawarij ?
Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Mereka adalah orang-orang yang memberontak terhadap pemerintah di akhir masa kepemimpinan ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu yang mengakibatkan terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Kemudian di masa kepemimpinan ‘Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, keadaan mereka semakin buruk. Mereka keluar dari ketaatan terhadap ‘Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, mengkafirkannya, dan mengkafirkan para shahabat. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Aqidah dan Manhaj | Leave a Comment »
Ditulis oleh Pengelola di/pada 10 Juli, 2008
Penulis: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsary
Pengetahuan tentang najis sangat penting bagi seorang muslim karena berkaitan erat dengan ibadah. Jangan sampai karena ketidaktahuannya, benda yang sebenarnya hanya kotoran biasa dianggap najis dan sebaliknya menganggap remeh benda-benda yang dianggap najis oleh syariat.
Najis merupakan hal yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan harus diperhatikan keberadaannya khususnya oleh seorang muslim karena berkaitan dengan ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Contoh yang paling mudah, ketika seseorang hendak menegakkan shalat, ia harus memperhatikan kesucian diri dan tempat shalatnya dari hadats maupun najis.
Namun sangat disayangkan, berapa banyak kaum muslimin yang belum mengetahui dengan benar masalah najis ini – walaupun sebenarnya permasalahan ini telah banyak dibahas oleh para ulama, baik dari sisi pengertian maupun penjelasan macam-macamnya secara rinci. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Fiqh Ibadah | Leave a Comment »
Ditulis oleh Pengelola di/pada 9 Juli, 2008
Oleh : Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
Pertanyaan : Ketika disebutkan nama seorang yang menyia-nyiakan dirinya dengan dosa, sebagian orang berkata, “Sesungguhnya si fulan jauh dari hidayah” atau “Dari Surga” atau “Dari ampunan ALLAH”. Apakah hukum hal tersebut ?
Jawaban :
Ini tidak boleh karena hal itu termasuk ta’alliy (bersumpah) atas ALLAH ‘Azza wa Jalla. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa ada seseorang yang menyia-nyiakan dirinya. Kemudian lewat di depannya seseorang dan berkata, “ Demi ALLAH, ALLAH tidak akan mengampuni si fulan! Maka ALLAH ‘azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa yang bersumpah atas-Ku bahwa Aku tidak mengampuni seseorang, maka Aku telah mengampuninya dan Aku gugurkan amalmu.”1 Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Akhlaq dan Adab, Fatwa Ulama | Leave a Comment »